ardipedia.com – Pernah enggak sih kamu lagi scroll media sosial, terus lihat teman kamu pamer gajinya yang gede banget? Atau kamu lagi interview dan bingung mau sebut angka berapa saat ditanya ekspektasi gaji? Rasanya tuh kayak lagi main tebak-tebakan, tapi risikonya gede banget. Kalau kamu sebut terlalu rendah, kamu rugi. Kalau terlalu tinggi, kamu bisa enggak dilirik sama perusahaan. Akhirnya, kamu cuma pasrah dan terima gaji yang ditawarin. Menentukan gaji ideal itu bukan cuma soal dapat uang banyak, tapi soal menghargai diri sendiri dan kerja keras kamu. Gaji yang ideal itu adalah gaji yang sebanding dengan skill, pengalaman, dan tanggung jawab yang kamu punya. Ini juga soal gimana kamu bisa hidup nyaman, menabung, dan mencapai tujuan finansial kamu. Kalau kamu enggak tahu berapa gaji yang seharusnya kamu dapat, kamu bisa terjebak di posisi yang gajinya di bawah standar. Artikel ini bakal kasih kamu cara-cara gampang dan praktis buat cari tahu berapa sih gaji ideal kamu di industri saat ini. Ini bukan cuma soal ngandelin website atau aplikasi, tapi juga soal strategi yang bisa kamu terapkan. Kita bakal bahas dari mulai riset sampai cara ngobrolinnya. Semua ini tujuannya biar kamu bisa lebih pede dan punya argumen yang kuat saat negosiasi gaji. Yuk, kita mulai dari yang paling dasar.
1. Pahami Dulu Nilai Kamu di Pasar
Sebelum kamu nentuin angka, kamu harus tahu dulu, apa sih yang bikin kamu berharga di mata perusahaan? Anggap aja kamu produk, dan kamu harus tahu berapa harga jual produk itu. Coba tanyakan ke diri kamu sendiri:
Apa skill yang kamu punya? Apakah kamu menguasai skill yang lagi banyak dicari di industri kamu? Misalnya, kamu jago coding di bahasa pemrograman tertentu atau kamu ahli di bidang digital marketing.
Berapa pengalaman kerja kamu? Semakin lama pengalaman kamu, semakin tinggi nilai kamu. Tapi, enggak cuma soal lama, tapi juga soal kualitas pengalaman itu.
Apa saja tanggung jawab kamu? Apakah kamu cuma ngerjain tugas harian, atau kamu juga megang proyek besar, memimpin tim, atau langsung berurusan sama klien penting?
Apa pencapaian kamu? Apakah kamu berhasil naikin penjualan, hemat biaya, atau nyelesaiin proyek lebih cepat dari target? Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kamu bisa punya gambaran yang lebih jelas soal nilai kamu. Kamu enggak bisa cuma bandingin diri kamu sama orang lain yang posisinya sama, tapi skill dan pengalamannya beda.
2. Manfaatkan Platform Pencarian Kerja untuk Riset Gaji
Ini adalah cara yang paling gampang dan sering banget dilakuin. Ada banyak platform pencarian kerja yang punya fitur buat riset gaji. Fitur ini bakal ngasih tahu kamu rentang gaji rata-rata buat posisi, industri, dan lokasi tertentu. Contohnya, kamu bisa cek:
LinkedIn: Fitur Salary di LinkedIn bisa ngasih tahu kamu gaji rata-rata buat posisi kamu berdasarkan lokasi, pengalaman, dan skill.
Glassdoor: Website ini punya banyak review gaji dari karyawan yang sudah kerja di perusahaan-perusahaan tertentu. Kamu bisa cari tahu gaji buat posisi yang kamu inginkan.
Jobstreet atau Kalibrr: Platform lokal ini juga sering ngasih tahu rentang gaji yang ditawarkan oleh perusahaan.
Komunitas online: Cari tahu di grup-grup Facebook, Telegram, atau Discord yang isinya profesional di industri kamu. Biasanya, di sana ada yang sharing soal gaji. Angka yang kamu dapat dari riset ini bisa jadi patokan dan bukti konkret saat kamu negosiasi gaji. Jadi, kamu enggak cuma asal tebak, tapi punya data yang valid.
3. Pertimbangkan Faktor Lokasi dan Biaya Hidup
Gaji yang ideal itu enggak sama di setiap kota. Biaya hidup di Jakarta, misalnya, jauh lebih mahal daripada di kota-kota lain. Makanya, penting banget buat mempertimbangkan lokasi tempat kamu kerja. Contohnya, gaji Rp8 juta di Jakarta mungkin terasa biasa-biasa aja. Tapi, gaji Rp8 juta di kota lain, misalnya Solo, bisa dibilang besar banget. Jadi, jangan cuma bandingin gaji kamu sama gaji teman kamu yang kerja di kota lain. Kamu bisa cari tahu indeks biaya hidup di kota kamu. Banyak kok website yang nyediain data ini. Dengan tahu biaya hidup, kamu bisa nentuin berapa minimal gaji yang kamu butuhkan buat hidup nyaman, nabung, dan bayar semua tagihan.
4. Bicarakan dengan Orang yang Terpercaya
Ngobrolin soal gaji itu memang sensitif. Tapi, kamu bisa kok ngobrolin ini sama orang-orang yang kamu percaya, misalnya mentor, atasan lama, atau teman yang sudah kerja di industri yang sama. Caranya:
Tanyakan dengan sopan: Jangan langsung nanya, "Gaji lo berapa sih?" Coba tanyakan dengan lebih sopan. Misalnya, "Menurut lo, berapa sih gaji yang wajar buat posisi marketing specialist dengan pengalaman dua tahun di industri ini?"
Minta saran: Minta saran ke mereka. Tanyakan, "Menurut lo, skill apa yang harus gue kuasai biar gaji gue bisa naik?"
Jaga rahasia: Jangan pernah cerita ke orang lain kalau kamu sudah ngobrolin gaji sama seseorang. Ini bisa ngerusak kepercayaan. Gue yakin, orang yang kamu percaya pasti mau bantu kamu. Mereka bisa ngasih kamu wawasan dan perspektif yang enggak kamu dapat dari internet.
5. Tentukan Angka yang Kamu Tawarkan dengan Strategi
Setelah kamu riset, kamu harus bisa nentuin angka yang kamu tawarkan. Jangan cuma nentuin satu angka. Ada baiknya kamu punya tiga angka:
Angka terendah (Anchor Price): Ini adalah angka paling rendah yang masih bisa kamu terima.
Angka ideal (Target Price): Ini adalah angka yang kamu harapkan. Angka ini harus berdasarkan riset dan nilai kamu.
Angka tertinggi (Stretch Goal): Ini adalah angka yang kamu sebutin pertama kali saat negosiasi. Angka ini bisa lebih tinggi dari angka ideal, jadi kamu punya ruang buat negosiasi. Gue pernah, dulu pas interview, gue ditanya ekspektasi gaji. Gue sebut angka yang tinggi, tapi gue juga bilang kalau angka itu masih bisa didiskusikan. Hasilnya, perusahaan nawarin gaji yang lebih rendah, tapi masih di atas angka ideal gue. Jadi, dengan punya strategi, kamu enggak akan rugi.
image source : Unsplash, Inc.