ardipedia.com – Kalau kita scrolling di media sosial, pasti sering banget lihat foto anak-anak kecil yang tingkahnya gemesin. Ada yang lagi gaya pakai baju lucu, ada yang lagi ketawa ngakak, sampai video mereka yang lagi ngomong hal random tapi lucu. Orang tua yang rutin berbagi cerita dan foto anak mereka di internet ini kita sebut lagi sharenting. Kelihatannya simple ya, cuma upload foto. Tapi, ada satu hal yang penting banget buat kita bahas serius: batasan privasi anak di dunia digital. Intinya, setiap foto yang kita posting itu nambahin jejak digital yang bakal nempel terus di internet, dan jejak itu milik si anak.
Wajar banget kalau orang tua ngerasa bangga dan happy saat anak mereka berhasil melakukan hal baru. Siapa coba yang nggak excited waktu anaknya ngomong kata pertamanya? Rasa happy itu otomatis pengen dibagi ke banyak orang. Itu naluri alami. Tapi, kadang kita lupa, posting-an itu punya dampak yang panjang. Kita sering lupa kalau anak itu punya hak atas cerita hidupnya sendiri, yang nggak seharusnya diumumkan ke publik tanpa persetujuan mereka, apalagi saat mereka belum bisa paham apa-apa.
Jejak Digital Anak Itu Bukan Album Foto Biasa
Dulu, foto masa kecil kita cuma ada di album fisik, yang cuma bisa dilihat kalau kita yang buka dan ngasih izin ke orang lain. Kita yang pegang kendali penuh. Sekarang, beda banget. Sekali aja tombol share diklik, foto itu bisa diakses dan disimpan oleh siapa pun. Cepatnya penyebaran informasi ini memang keren, tapi kita harus aware sama tanggung jawabnya. Kita perlu mikir jernih, apakah sharing ini benar-benar nguntungin anak kita, atau malah tanpa sadar kita lagi bikin digital footprint yang suatu hari nanti bisa nyusahin mereka.
Banyak banget pakar yang ngomong kalau dengan rutin upload foto, kita lagi bikin semacam profil utuh tentang anak, bahkan sebelum mereka bisa ngomong setuju atau nggak. Ada laporan yang nyebutin kalau sebelum anak umur 5 tahun, banyak di antara mereka sudah punya ratusan, bahkan ribuan, foto yang diunggah orang tua mereka di internet. Jumlah ini nggak sedikit, lho. Coba deh kita bayangin, kalau gue disuruh upload ribuan momen pribadi gue, gue pasti bakal milih ketat banget mana yang boleh dilihat umum dan mana yang harus jadi rahasia. Nah, anak-anak nggak punya pilihan buat milih, jadi kita yang harus jadi filternya.
Etika Privasi Itu Soal Rasa Hormat ke Anak
Nentuin batasan privasi itu emang nggak gampang. Tiap keluarga pasti punya standar yang berbeda-beda. Tapi, ada satu hal yang harus jadi pegangan kita: selalu utamakan kepentingan anak. Sebelum kamu upload foto apapun, coba deh hold dulu. Tanyakan ke diri sendiri: Apakah foto ini punya potensi bikin anak gue ngerasa malu atau nggak nyaman nanti kalau dia udah gede? Apakah foto ini ngasih terlalu banyak detail pribadi tentang lokasi mereka atau aktivitas rutin mereka?
Ambil contoh foto anak lagi nangis hebat karena ngambek di mall, atau foto mereka pas lagi sakit dan kelihatan lemes. Niat orang tua mungkin mau berbagi cerita atau minta saran. Tapi, coba pikirin dari sudut pandang anak yang sudah remaja. Foto-foto itu bisa bikin mereka malu banget di hadapan teman-teman mereka. Kita aja sebagai orang dewasa pasti punya foto masa lalu yang kita pengen hilangkan dari dunia ini, kan? Anak-anak juga punya hak yang sama untuk nggak dibuat malu di internet, apalagi oleh orang tua mereka sendiri.
Anak Berhak Punya Kendali Atas Kisah Mereka
Kamu pasti pernah dengar istilah hak untuk dilupakan atau right to be forgotten, kan? Itu hak buat minta data pribadi kita dihapus dari internet. Anak-anak yang sekarang timeline digitalnya kita isi, suatu hari nanti akan dewasa dan mungkin pengen pakai hak itu. Mereka nggak pernah milih buat ada di media sosial kita. Mereka nggak bisa bilang, "Aku nggak suka foto ini di-upload, Ma/Pa." Ini yang disebut otonomi digital, dan ini penting buat masa depan mereka.
Saat anak udah besar dan punya lingkup sosial sendiri, mereka mungkin nggak mau kalau semua temannya tahu setiap detail random masa kecil mereka. Bayangin kalau teman sekelasnya nemuin foto mereka lagi nganga pas tidur yang di-upload di akun kamu 10 tahun yang lalu. Itu bisa bikin mereka minder dan nggak enak hati. Orang tua harus mulai mikir: Gue udah ngasih anak gue ruang buat menentukan cerita hidupnya sendiri, atau gue udah ngatur semuanya buat mereka? Kalau posting-an kita cuma bikin mereka nggak nyaman atau malu, itu alarm buat kita untuk segera archive atau delete post-nya.
Risiko Keamanan dan Penyalahgunaan Data
Meskipun terdengar jauh, kita harus sadar kalau sharenting yang terlalu terbuka itu bisa memicu risiko keamanan yang serius. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:
Pertama, Pencurian Identitas Anak. Foto anak kadang di-upload barengan sama informasi penting kayak nama lengkap, tanggal lahir, nama sekolah, atau bahkan nama panggilan yang nggak umum. Semua data ini, kalau dikumpulkan, bisa dipakai buat mencuri identitas anak. Ini adalah risiko yang ada, dan kita harus waspada.
Kedua, Penyalahgunaan Foto oleh Pihak Asing. Ada kasus di mana foto anak yang diunggah secara publik diambil dan digunakan buat tujuan yang nggak semestinya. Foto itu bisa aja dipakai buat meme yang nggak sopan, atau yang lebih parah, dipakai buat profil palsu di internet. Kita juga harus ingat kalau platform media sosial itu punya kebijakan data yang kadang bisa aja pakai foto anak kita buat kepentingan iklan tanpa kita sadari sepenuhnya.
Ketiga, Menjadi Target Orang Jahat. Ini yang paling serius. Dengan sharing terlalu banyak detail, kita secara nggak sengaja ngasih clue ke orang yang berniat buruk. Misalnya, sering posting foto di lokasi yang sama setiap hari (sekolah, tempat les), atau detail tentang barang berharga di rumah. Orang jahat itu pinter dan bisa nyusun semua informasi dari posting-an kita. Ini bukan buat nakut-nakutin, tapi buat jadi pengingat: Keselamatan anak itu nomor satu, jadi kita harus selalu mikir matang sebelum posting.
Momen Penting Kapan Kita Harus Berhenti Mengunggah Foto Anak
Banyak pakar anak nyaranin ada beberapa fase tumbuh kembang anak di mana orang tua harusnya mulai STOP upload foto tanpa izin eksplisit dari si anak:
Saat Anak Masuk Sekolah dan Punya Kesadaran Diri (Sekitar Usia 6-7 Tahun)
Di usia ini, anak udah mulai punya kesadaran sosial, udah bisa ngerasa malu, dan punya privasi. Ini adalah saat yang tepat buat orang tua untuk berhenti upload tanpa minta izin. Mereka udah bisa ngasih jawaban yang jelas. Tanya mereka baik-baik, "Boleh nggak Mama/Papa share foto kamu yang ini ke Instagram?" Kalau mereka bilang nggak, kamu wajib menghormati keputusan itu. Ini cara terbaik buat ngajarin mereka tentang otonomi tubuh dan diri mereka sendiri.
Saat Kontennya Terlalu Pribadi atau Berpotensi Memalukan
Ini berlaku buat semua umur. Konten yang menunjukkan anak lagi nangis kejer, lagi sakit, atau foto yang memperlihatkan ketelanjangan seharusnya nggak pernah diunggah ke publik. Foto-foto kayak gini nggak cuma melanggar privasi, tapi juga bisa jadi bahan cyberbullying atau ejekan saat anak udah besar nanti. Kalau foto itu cuma cocok buat dilihat di album keluarga, ya sudah, biarkan dia tetap di sana, jangan pernah share ke publik.
Saat Anak Sudah Punya Akun Media Sosial Sendiri
Ketika anak sudah cukup umur buat punya akun media sosial sendiri (sesuai batas usia platform), peran orang tua harus berubah jadi support system dan mentor. Kendali atas citra diri harus diserahkan ke anak. Jangan sampai kamu sebagai orang tua masih upload foto anak yang bikin mereka malu di saat mereka lagi berusaha membangun citra diri yang mereka mau. Itu namanya nggak respek.
Ketika Posting-an Membocorkan Detail Lokasi yang Rutin dan Sensitif
Selalu hindari geotagging atau caption yang terlalu detail tentang lokasi rutin anak, seperti nama sekolah, tempat les, atau lokasi yang sering kamu kunjungi. Kalau mau upload foto dari lokasi tertentu, lakukanlah setelah kamu dan anak sudah nggak ada di sana. Tunda upload-nya beberapa jam atau hari. Ini adalah langkah safety paling dasar yang nggak boleh kamu lupakan.
Tips Sharenting Supaya Tetap Aman
Kamu tetap bisa sharing momen indah anak, kok, asalkan dilakukan dengan cara yang lebih bijak dan low profile. Ini beberapa tips yang bisa kamu terapkan:
Pilih Foto yang Netral dan Bikin Senyum: Fokus aja pada momen yang positif atau foto yang cute tanpa harus nge-ekspos terlalu banyak. Hindari foto yang menunjukkan emosi negatif atau situasi yang rentan.
Jaga Kerahasiaan Detail Penting: Jangan pernah tag lokasi, jangan sebut nama lengkap atau tanggal lahir di caption publik, dan pastikan nggak ada dokumen pribadi anak yang kelihatan di foto.
Maksimalkan Pengaturan Privasi: Set akun kamu jadi private itu wajib. Lebih bagus lagi kalau kamu pakai fitur close friends atau limited group buat sharing foto anak. Hanya orang-orang yang kamu percaya mutlak yang boleh lihat.
Refleksi Niat Posting: Tanyakan ke diri sendiri: Apakah gue posting ini buat kenangan indah anak gue, atau cuma buat nyari like dan perhatian dari orang lain? Kalau alasannya lebih ke yang kedua, mending pause dulu. Sharing harusnya fokus merayakan anak, bukan nyari validasi diri.
Buat Aturan Digital Bareng Keluarga: Pastikan semua orang yang sering foto bareng anak kamu (kakek, nenek, om, tante) juga sepakat dan ngerti sama aturan sharenting yang kamu terapkan. Ini penting banget.
Ajak Anak Ngobrol Tentang Internet: Saat mereka sudah bisa diajak ngobrol, kasih tahu mereka kalau setiap foto yang di-share itu akan stay di internet. Ini cara terbaik buat ngajarin mereka tentang pentingnya privasi.
Sharenting itu bukan cuma soal upload atau nggak upload. Ini adalah proses kita sebagai orang tua buat menyeimbangkan antara rasa bangga yang wajar dan kewajiban melindungi kehidupan pribadi anak. Kita nggak perlu drama atau terlalu kaku. Kita cuma perlu berusaha jadi orang tua yang lebih aware dan respek sama hak anak-anak kita.
Kalau gue boleh kasih satu gambaran yang nggak ribet, bayangin aja, anak kamu itu punya diary kehidupannya sendiri. Kamu sebagai orang tua punya hak buat nulis beberapa halaman indah di diary itu. Tapi, kamu juga harus tahu kapan saatnya kamu berhenti menulis di diary itu dan ngasih pulpennya ke anak kamu, supaya mereka bisa menulis halaman-halaman hidup mereka sendiri, dengan cerita dan pilihan kata yang mereka mau. Keputusan buat STOP upload tanpa izin itu bukan berarti kamu nggak sayang sama anak kamu. Justru, itu adalah cara paling tulus buat bilang: "Ibu/Bapak percaya kamu berhak menentukan kisah kamu sendiri nantinya.." Itu adalah bentuk respek terhadap diri mereka. Jadi, santai aja, tapi tentukan batas yang jelas dari sekarang.
image source : Unsplash, Inc.