ardipedia.com – Ada momen ketika kamu merasa tubuh baik-baik saja, nggak ada keluhan berarti, masih bisa kerja, masih bisa nongkrong, dan rasanya kondisi fisik kamu aman. Tapi tanpa kamu sadari, banyak kebiasaan yang terlihat normal ternyata bikin tubuh pelan-pelan melemah. Ini yang sering disebut orang sebagai fake healthy. Kamu merasa sehat, padahal tubuh kamu lagi ngirim sinyal yang kamu abaikan. Kadang tubuh terlihat kuat, tapi sebenarnya lagi berjuang di belakang layar. Gue pernah ada di fase itu, merasa semua baik-baik aja sampai sadar banyak rutinitas gue yang ternyata bikin tubuh bekerja ekstra tanpa gue tahu.
Istilah fake healthy ini muncul karena banyak orang sekarang kelihatannya bugar dari luar, tapi setelah diperiksa lebih dalam, tubuh mereka punya tanda-tanda tidak seimbang. Misalnya kamu sering merasa nggak sakit tapi gampang lelah, gampang kesal, atau susah tidur. Ini bukan tanda kamu sehat, hanya tubuh kamu berusaha bertahan. Kesehatan itu bukan sekadar kamu bisa beraktivitas, tapi bagaimana tubuh kamu memulihkan diri, merespons stres, dan menjaga fungsinya tetap stabil.
Salah satu alasan kenapa fake healthy sering terjadi adalah pola hidup yang kejar target. Kamu merasa harus produktif, harus aktif, harus semangat setiap hari. Tekanan itu bikin kamu lupa bahwa tubuh nggak selalu bisa mengikuti. Banyak dari kita merasa nggak enak kalau mengakui lelah, seakan-akan lelah itu tanda salah. Padahal rasa lelah yang berkepanjangan itu bisa jadi alarm bahwa tubuh kamu butuh jeda.
Contoh paling umum fake healthy adalah saat kamu tidur cukup jam tapi tetap bangun dengan rasa berat. Menurut National Sleep Foundation, kualitas tidur dipengaruhi oleh ritme sirkadian dan kebiasaan harian, bukan hanya lamanya waktu tidur. Waktu kamu tidur delapan jam tapi tetap merasa tidak segar, artinya ada yang nggak nyambung antara apa yang tubuh kamu butuhkan dengan apa yang kamu lakukan (National Sleep Foundation, 2023). Banyak orang merasa sehat hanya karena tidak sakit, padahal tidur yang kacau bisa memengaruhi sistem imun dan mood kamu.
Kamu mungkin juga merasa sudah makan cukup, tapi ternyata pilihan makanan yang kamu konsumsi kurang bergizi. Misalnya kamu merasa kenyang karena makan mi instan atau roti sepanjang hari. Itu membuat kamu merasa aman karena tidak lapar, tapi tubuh kamu kekurangan nutrisi penting. Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, tubuh membutuhkan kombinasi serat, protein, lemak sehat, dan mikronutrien untuk menjaga tubuh tetap bekerja secara optimal (Harvard School of Public Health, 2023). Tanpa itu, kamu bisa merasa berenergi palsu, seperti baterai yang di-charge setengah.
Aktivitas fisik juga bisa bikin kamu masuk ke zona fake healthy. Banyak orang merasa mereka aktif hanya karena sering berjalan dari satu tempat ke tempat lain atau karena pekerjaan mereka membuat mereka banyak bergerak. Tapi aktif secara fisik itu bukan sekadar bergerak tanpa arah. Latihan yang terstruktur, meski ringan, bisa membantu tubuh memelihara otot, menjaga stabilitas sendi, dan meningkatkan kapasitas jantung. Tanpa latihan yang jelas, tubuh kamu tetap bisa rapuh meskipun kamu merasa sudah sering bergerak.
Stres juga menjadi faktor besar kenapa fake healthy muncul. Kamu mungkin merasa sudah terbiasa dengan tekanan hidup, tapi stres yang berkepanjangan membuat tubuh terus berada dalam mode siaga. Mode siaga ini bikin hormon kortisol meningkat dan mempengaruhi kualitas tidur, nafsu makan, fokus, sampai sistem imun. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa stres kronis bisa memengaruhi kondisi tubuh secara luas, bahkan ketika kamu merasa tidak sakit (Cleveland Clinic, 2023). Kamu mungkin merasa sehat karena tidak ada gejala yang jelas, padahal tubuh kamu lelah menghadapi tekanan yang tidak pernah berhenti.
Ada lagi contoh fake healthy yang sering terjadi pada orang yang hidupnya sibuk. Kamu merasa sehat karena selalu siap beraktivitas, tapi tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kecil seperti pusing tiba-tiba, telapak tangan dingin, atau detak jantung berdebar tanpa alasan jelas. Tanda-tanda itu sering diabaikan karena kamu merasa itu hal kecil. Padahal tubuh sedang menunjukkan bahwa sistemnya bekerja terlalu keras.
Banyak orang juga merasa sehat karena berat badan mereka stabil. Tapi angka di timbangan tidak selalu menggambarkan kondisi tubuh yang sebenarnya. Berat badan bisa normal, tapi komposisi tubuh kamu tidak seimbang. Misalnya kamu punya massa otot yang rendah dan lemak viseral yang tinggi. Lemak viseral adalah lemak yang menyelimuti organ dalam dan bisa meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Menurut Mayo Clinic, lemak ini tidak terlihat dari luar tapi punya dampak besar pada fungsi tubuh (Mayo Clinic, 2022). Jadi hanya karena bentuk tubuh kamu terlihat oke, bukan berarti kamu bebas dari risiko.
Pola minum pun sering bikin orang merasa fake healthy. Kamu merasa tidak haus sehingga kamu pikir kamu cukup hidrasi. Padahal rasa haus itu bukan indikator akurat apakah tubuh kamu kekurangan cairan atau tidak. Tubuh membutuhkan asupan air secara konsisten, bukan hanya saat kamu merasa haus. Dehidrasi ringan bisa membuat kamu mudah capek, pusing, dan sulit fokus, tapi banyak orang menganggap itu hal normal.
Ada kebiasaan lain yang cukup sering bikin orang merasa sehat padahal tidak. Kamu mungkin merasa aktif karena sering multitasking atau selalu bergerak cepat dalam keseharian. Tapi gerakan seperti itu tidak sama dengan olahraga. Latihan fisik yang terencana bisa membantu tubuh bekerja lebih stabil. Tanpa itu, kamu bisa merasa kuat secara mental tapi tubuh kamu lambat laun menurun.
Banyak yang merasa sehat hanya karena masih bisa bekerja. Mereka tidak merasa ada masalah. Padahal kemampuan bekerja bukan patokan kesehatan. Tubuh sering memaksa dirinya untuk tetap berjalan meski kondisinya kurang baik. Kalau kamu sering merasa kantuk berlebihan, konsentrasi buyar, atau sering ingin rebahan tanpa alasan kuat, itu tanda tubuh sedang butuh perhatian.
Fake healthy juga muncul saat kamu merasa energik karena konsumsi kafein berlebihan. Kamu merasa bisa menyelesaikan banyak hal, padahal tubuh kamu hanya didorong oleh efek stimulan. Ketika efeknya habis, kamu langsung drop. Menurut European Food Safety Authority, konsumsi kafein yang berlebihan bisa menyebabkan peningkatan denyut jantung, gangguan tidur, dan rasa gelisah (EFSA, 2021). Energi yang kamu rasakan itu bukan energi alami. Itu energi pinjaman.
Kadang kamu menyamakan aktif dengan sehat. Kamu merasa sehat karena kamu sering bekerja di luar, sering bepergian, atau punya rutinitas padat. Tapi kamu jarang memperhatikan pola makan, pola tidur, dan intensitas stres. Kebiasaan ini bikin kamu tahan banting hanya di permukaan, tapi tubuh kamu mungkin sudah kelelahan di dalam.
Emosi juga punya peran besar dalam fake healthy. Kamu merasa baik-baik saja karena tidak sedih atau tidak murung, tapi itu bukan berarti mental kamu sehat. Kamu mungkin menumpuk banyak emosi yang tidak diungkapkan, yang akhirnya membuat kamu gampang cemas atau mudah tersinggung. Mental health itu tidak selalu tentang gejala ekstrem. Kadang yang terlihat tenang itu justru yang paling lelah.
Tubuh kamu adalah mesin yang bekerja setiap hari. Mesin ini punya cara sendiri memberi tahu kamu kapan harus berhenti, kapan harus istirahat, kapan harus makan, dan kapan harus bergerak. Tapi ketika kamu terbiasa menekan semua sinyal itu, kamu menciptakan ilusi sehat. Tubuh terlihat baik, tapi sebenarnya kamu sedang berjalan tipis antara sehat dan lelah.
Kamu mungkin juga sering merasa sehat karena tidak pernah ke dokter. Banyak yang bangga karena jarang sakit. Padahal tanpa pemeriksaan rutin, kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam tubuh kamu. Pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol itu penting sebagai indikator kesehatan. Banyak kondisi muncul tanpa gejala yang jelas. Orang sering baru sadar ketika sudah terlambat.
Fake healthy juga bisa terlihat dari bagaimana kamu menilai produktivitas. Kamu merasa sehat karena kamu bisa menyelesaikan banyak tugas dalam sehari. Tapi kamu juga mungkin merasa tidak punya energi di akhir hari. Kalau itu terjadi setiap hari, berarti tubuh kamu tidak mengolah energi dengan baik. Ini bukan tanda sehat. Ini tanda tubuh kamu sedang bekerja keras tanpa pemulihan yang cukup.
Sering kali orang yang merasa fake healthy menganggap aktivitas mereka cukup karena mereka tidak pernah merasa sakit ekstrem. Padahal rasa sakit itu bukan satu-satunya indikator kondisi tubuh. Kelelahan, mudah marah, kepala berat, dan otot kaku itu tanda-tanda yang harus kamu sadari. Jangan sampai kamu merasa sehat hanya karena tubuh kamu bertahan.
Agar kamu tidak terjebak dalam keadaan fake healthy, kamu perlu mulai mendengar kebutuhan tubuh kamu. Ini bukan tentang mengikuti tren, tapi tentang memahami tanda kecil yang sering kamu abaikan. Kamu bisa mulai dari memperhatikan pola tidur, pola makan, jumlah air minum, dan intensitas aktivitas fisik. Kamu juga bisa melacak mood harian kamu. Kalau kamu merasa sering kehilangan fokus atau sering capek, itu tanda kamu butuh perubahan kecil.
Mendengarkan tubuh bukan pekerjaan berat. Kamu tidak perlu melakukan perubahan besar sekaligus. Kamu bisa mulai dari hal yang sederhana. Misalnya tidur lebih awal, mengurangi konsumsi kafein di sore hari, atau hanya berjalan santai sepuluh menit. Tubuh kamu akan berterima kasih kalau kamu mulai memberi perhatian.
Kamu tidak perlu merasa salah kalau selama ini berada di zona fake healthy. Banyak orang mengalaminya. Yang penting kamu tahu apa yang harus kamu lakukan ke depannya. Tubuh kamu itu butuh perawatan, butuh perhatian, dan butuh waktu untuk pulih. Jangan sampai kamu memaksa diri terus berjalan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh.
Fake healthy itu nyata dan sering terjadi tanpa disadari. Tapi kamu bisa keluar dari situ dengan memahami diri kamu sendiri. Kamu bisa mulai memberi ruang untuk tubuh bernapas, bergerak, dan beristirahat. Kamu bisa menciptakan rutinitas harian yang bikin tubuh kamu lebih stabil.
Kamu tidak harus kuat setiap hari. Kamu tidak harus terlihat sehat. Yang penting tubuh kamu benar-benar sehat, bukan hanya terlihat dari luar. Pelan-pelan kamu akan mulai merasakan perbedaannya. Dan ketika itu terjadi, kamu akan merasa lebih ringan, lebih tenang, dan lebih seimbang.
image source : Unsplash, Inc.