ardipedia.com – Ada satu trend yang belakangan ini jadi bahan ngobrol banyak orang, terutama di kantor-kantor startup, coworking space, sampai kampus tempat anak magang sering nongkrong. Trendnya simpel, agak gila, tapi surprisingly masuk akal: kerja sambil gym. Bukan cuma sekadar stretching iseng di sela-sela Zoom meeting, tapi benar-benar menggabungkan aktivitas kerja dengan gerakan fisik yang bikin badan tetap aktif. Kalau kamu baru dengar, mungkin kedengarannya absurd banget. Tapi makin dilihat, makin terasa masuk logika, dan makin banyak orang nyobain.
Fenomena ini muncul karena banyak orang yang mulai capek sama rutinitas duduk berjam-jam yang bikin badan gampang pegal, mood naik turun, sampai fokus buyar. Apalagi pekerja Gen Z yang gaya hidupnya lebih fleksibel dan cenderung butuh aktivitas biar otaknya jalan. Kerja sambil gym akhirnya jadi semacam pelarian yang terasa wajar, karena ternyata tubuh manusia memang desainnya untuk bergerak, bukan duduk diam kaya patung di meja kerja.
Walaupun belum semua kantor siap dengan konsep ini, komunitas-komunitas remote worker sampai freelancer udah mulai menemukan cara mereka sendiri buat ngegabungin dua dunia yang sebelumnya dianggap nggak mungkin disatukan ini.
Gerakan Ringan Ternyata Ngasih Efek yang Nggak Kamu Sangka
Salah satu alasan kenapa trend ini jadi ramai dibahas adalah karena ada riset yang memperlihatkan bahwa tubuh yang aktif bakal bantu otak bekerja lebih baik. Peneliti dari University of Cambridge pernah menyebutkan bahwa aktivitas fisik ringan bisa meningkatkan aliran darah ke otak, dan itu membantu daya konsentrasi serta kemampuan memproses informasi jadi lebih optimal (Sumber: University of Cambridge, Physical Activity and Cognitive Function).
Kalau kamu kerja sambil melakukan aktivitas fisik yang sebenarnya masih aman dan ringan, otak kamu nggak jadi overheat. Malah bisa lebih stabil. Mungkin kamu pernah ngerasain sendiri, kalau lagi duduk lama banget, bawaannya jadi gampang capek, padahal seharusnya nggak ngapa-ngapain. Itu karena tubuh kamu stagnan, sementara otak terus dipaksa kerja.
Dengan sedikit gerakan, sistem tubuh aktif, oksigen lebih lancar, dan mikir terasa lebih enteng. Jadi sebenarnya bukan cuma soal mau gaya atau ikut-ikutan tren, tapi ada logika biologisnya juga.
Beda Orang, Beda Cara Nerapinnya
Kerja sambil gym ini nggak harus selalu dalam bentuk treadmill desk. Banyak yang menerapkannya dengan cara yang lebih sederhana. Ada yang pakai resistance band sambil baca brief, ada yang ngelakuin standing desk dengan stepper kecil, ada juga yang pakai gym ball buat duduk biar punggung tetap aktif.
Gue pernah lihat orang kerja sambil squat ringan setiap beberapa menit, dan ternyata itu bukan sekadar iseng. Itu cara mereka ngejaga aliran darah dan ningkatin fokus. Menurut Harvard Health Publishing, aktivitas fisik singkat yang dilakukan berkala bisa ningkatin mood dan menurunin rasa stress, terutama buat yang kerja dalam tekanan tinggi. Sumber: Harvard Health Publishing, The Exercise Effect.
Kamu nggak harus hardcore atau terlihat seperti lagi workout session. Intinya adalah tubuh kamu nggak dibiarkan diam terlalu lama.
Kadang yang bikin orang salah paham adalah mereka kira “kerja sambil gym” berarti olahraga berat. Padahal justru enggak. Yang paling efektif justru gerakan-gerakan mini yang mudah dilakukan tanpa ganggu ritme kerja.
Kantor Mulai Ikutan Nge-Upgrade Caranya Kerja
Beberapa perusahaan di luar negeri sudah mulai nyiapin ruang kerja yang lebih aktif. Ada meja treadmill buat karyawan yang pengen tetap gerak sambil baca laporan. Ada ruang khusus stretching di sela meeting. Bahkan ada perusahaan yang ngasih fasilitas walking meeting di sekitar kantor.
Fenomena ini bukan gimmick. Data dari American Council on Exercise menunjukkan bahwa movement-based working environment bisa bantu ningkatin produktivitas sampai 15 persen karena tubuh nggak mudah jenuh. Sumber: American Council on Exercise, Movement & Productivity Research.
Di Indonesia, penerapannya memang belum terlalu masif, tapi coworking space tertentu sudah mulai menyediakan area-area semi-aktif. Kalau kamu tipe yang suka remote working, kemungkinan besar kamu lebih gampang menyesuaikan tren ini karena kamu bisa bikin setup kerja sesuka hati.
Trend ini sebenarnya muncul juga karena gaya bekerja berubah. Orang pengen tetap fokus, tapi nggak mau kehilangan kesehatan mereka gara-gara duduk kelamaan. Kerja sambil gym akhirnya jadi jembatan yang cukup masuk akal.
Kenapa Trend Ini Cocok Banget Buat Gen Z dan Milenial
Generasi sekarang punya gaya hidup yang lebih fleksibel dan butuh ruang buat bergerak. Kerja bukan cuma tentang ngumpulin gaji, tapi juga soal menjaga keseimbangan hidup biar badan dan pikiran nggak gampang drop.
Banyak pekerja muda sekarang yang merasa lebih produktif ketika tubuh mereka nggak nganggur. Makanya gym, olahraga ringan, dan aktivitas fisik lainnya bukan cuma jadi bagian dari gaya hidup, tapi udah dianggap kayak ritual harian.
Kalau kamu lihat orang-orang yang kerja dari coffee shop, banyak yang sesekali bangun, stretching sedikit, atau bahkan jalan sebentar sambil tetap ngerjain sesuatu dari ponsel. Itu bentuk lain dari tren yang sama.
Kerja sambil gym juga cocok buat kamu yang punya kecenderungan gampang bosan. Gerakan kecil bisa bantu otak teralihkan dari rasa jenuh dan bikin kamu tetap engaged dengan pekerjaan.
Bisa Bantu Kamu Ngurangin Stres Kerja yang Sering Muncul Diam-Diam
Pressure kerja itu nyata banget. Banyak dari kita yang kerjanya kelihatan santai, tapi ternyata kepala terus muter kayak mesin. Stres yang menumpuk tanpa disadari bisa ngefek ke badan. Di sinilah kerja sambil gym punya peran penting.
Gerakan fisik memicu hormon endorfin, yang dikenal bantu ngejaga mood. Dalam jangka pendek, kamu jadi lebih stabil. Dalam jangka panjang, kamu bisa lebih tahan terhadap tekanan.
WHO juga pernah menjelaskan bahwa aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu bisa menurunkan risiko kecemasan dan depresi, bahkan untuk orang yang kerjanya full time. Sumber: WHO Global Physical Activity Guidelines.
Kalau gerakan yang kamu lakukan tersebar sepanjang hari, tanpa kamu sadari kamu sebenarnya udah masuk zona yang disarankan WHO tadi.
Gerak Itu Bikin Tubuh Kamu Lebih Aware Sama Rutinitas
Salah satu hal yang menarik dari tren kerja sambil gym adalah kamu jadi lebih aware terhadap tubuh kamu sendiri. Kamu jadi tahu kapan badan kamu mulai jenuh, kapan bahu kamu mulai tegang, dan kapan pikiran kamu mulai blur.
Gerakan kecil bikin sinyal tubuh lebih terasa. Kamu jadi nggak terlalu memaksa diri buat lanjut kerja ketika badan udah terlalu tegang. Dengan kata lain, kamu jadi lebih peka sama diri sendiri.
Kadang yang bikin orang burnout bukan karena kerjaannya berat, tapi karena mereka nggak aware kapan harus istirahat. Dengan adanya aktivitas fisik ringan, tubuh ngasih reminder yang lebih jelas.
Tren Ini Bisa Dibawa ke Rumah, Ke Kantor, atau ke Mana Pun
Yang bikin tren ini menarik adalah fleksibilitasnya. Kamu bisa nerapin di ruang sempit, kamar kos, ruang kerja kantor, atau saat kerja jarak jauh di mana pun.
Banyak orang mulai punya kebiasaan kayak kerja sambil berdiri, sambil slow walking dengan treadmill mini, atau sambil gerakin kaki pakai pedal kecil. Ada juga yang suka pakai hand grip buat ngurangin stres sambil mikir ide baru.
Kamu juga bisa memadukan kerja sambil gym dengan gaya hidup yang kamu punya. Kalau pagi kamu lebih semangat, kamu bisa mulai kerja sambil beberapa gerakan ringan buat bangunin tubuh. Kalau siang kamu gampang ngantuk, kamu bisa pakai aktivitas fisik buat balikin energi.
Tren ini fleksibel banget. Kamu nggak harus punya alat. Kamu bisa improvisasi sesuai kebutuhan.
Yang Perlu Kamu Perhatikan Biar Tetap Aman
Walaupun konsepnya fleksibel, tubuh tetap punya batas yang perlu dihargai. Kamu tetep perlu memastikan posisi tubuh benar biar nggak salah gerak. Kalau kamu pakai alat tambahan seperti gym ball, meja berdiri, atau treadmill kecil, usahakan tubuh tidak dalam posisi yang bikin kamu cepat lelah atau kehilangan keseimbangan.
Gerakan kecil tetap harus nyaman dan dilakukan tanpa paksaan. Jika tubuh kamu terasa nggak nyaman, lebih baik berhenti sebentar, tarik napas, dan lanjut ketika sudah enakan. Intinya bukan nambah beban, tapi menambah kenyamanan.
Kalau kamu punya kondisi kesehatan tertentu, lebih baik konsultasi dulu ke ahli kesehatan atau fisioterapis. Banyak ahli kesehatan menyarankan gerakan low-impact untuk kamu yang baru mulai, karena lebih aman dan tetap ngasih manfaat.
Kenapa Banyak Orang Ngerasa Produktif Setelah Nyobain Kerja Sambil Gym
Ada sensasi berbeda ketika tubuh dan otak bekerja bersamaan. Aktivitas fisik ringan yang dilakukan sambil bekerja bikin kamu lebih fokus, lebih aware, dan lebih gampang masuk flow.
Beberapa orang bilang mereka lebih cepat selesai pekerjaan ketika tubuh mereka aktif. Ada juga yang bilang mood mereka lebih stabil. Banyak yang merasa nggak gampang panik ketika deadline datang.
Ini bukan sugesti. Ada penelitian yang dilakukan oleh International Journal of Workplace Health Management yang menyebutkan bahwa pekerja yang melakukan aktivitas fisik ringan di jam kerja melaporkan peningkatan energi dan fokus hingga 41 persen dibanding hari-hari ketika mereka hanya duduk sepanjang waktu.
Kerja sambil gym akhirnya bukan cuma jadi tren viral, tapi benar-benar jadi gaya kerja baru yang dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.
Akhirnya, Ini Bukan Soal Tren, Tapi Soal Cara Kamu Menjalani Hidup
Kerja sambil gym mungkin terdengar aneh pertama kali kamu dengar, tapi tren ini muncul dari kebutuhan nyata. Banyak orang yang mulai sadar kalau kesehatan dan produktivitas itu bukan dua hal yang harus dipilih salah satu. Kamu bisa punya keduanya kalau tubuh dan otak kamu berada dalam ritme yang seimbang.
Akhirnya, kerja sambil gym adalah cara biar kamu tetap bergerak tanpa kehilangan waktu kerja. Cara ini cocok buat kamu yang ingin tetap sehat tanpa harus nunggu waktu khusus buat olahraga. Cara ini juga cocok buat kamu yang gampang jenuh, gampang tegang, atau gampang kehilangan fokus.
Kalau kamu penasaran, nggak ada patokan harus mulai dari mana. Ambil gerakan paling kecil dulu. Dengarkan tubuh kamu. Rasakan apakah tubuh kamu jadi lebih ringan atau pikiran kamu jadi lebih stabil. Setiap orang punya ritmenya sendiri. Yang paling penting adalah kamu menemukan gaya kerja yang bikin kamu merasa nyaman, bukan terpaksa.
Tren ini mungkin terlihat gila di awal, tapi kalau kamu lihat manfaatnya, mungkin kamu bakal mikir tren ini nggak cuma relevan, tapi juga layak dicoba.
image source : Unsplash, Inc.