ardipedia.com – Ramadhan selalu datang dengan paket lengkap suasana yang bikin hati adem sekaligus jadwal yang padat luar biasa. Salah satu momen yang paling ditunggu selain libur lebaran tentu saja adalah ajakan buka bersama atau yang sering kita sebut bukber. Fenomena bukber ini sudah jadi budaya yang melekat banget di masyarakat kita karena fungsinya yang keren buat menyambung silaturahmi yang mungkin sempat redup karena kesibukan masing-masing. Tapi masalahnya muncul kalau yang ngajak bukber itu adalah gebetan atau seseorang yang sedang dekat tapi statusnya belum ada ikatan resmi alias belum halal. Situasi ini sering banget bikin galau karena di satu sisi kamu ingin menjaga ibadah puasa tetap maksimal, tapi di sisi lain ada rasa nggak enak atau malah semangat buat ketemu si dia.
Sebenarnya urusan bukber bareng lawan jenis yang bukan mahram itu punya banyak sisi yang perlu kita perhatikan baik-baik. Kita hidup di tengah masyarakat yang punya nilai-nilai spiritual kuat, jadi wajar kalau muncul pertanyaan tentang gimana sih batasan yang pas supaya niat baik silaturahmi nggak malah mengganggu pahala puasa. Gue merasa kalau masalah ini bukan soal boleh atau nggak boleh secara kaku saja, tapi lebih ke gimana kita bisa bersikap bijak dan menempatkan diri dengan tepat. Puasa itu kan tujuannya buat menahan diri dari segala hal yang bisa membatalkan atau mengurangi kualitas ibadah kita, termasuk urusan interaksi dengan lawan jenis yang kadang bisa bikin pikiran jadi ke mana-mana.
Dilema Antara Silaturahmi Dan Menjaga Hati
Ngomongin soal bukber bareng gebetan itu ibarat makan buah simalakama bagi sebagian orang yang sedang berusaha menjaga diri. Kamu mungkin merasa kalau sekadar makan bareng itu hal biasa dan nggak akan berdampak apa-apa pada kualitas puasa. Tapi kalau kita telusuri lebih dalam, esensi puasa bukan cuma menahan lapar dari subuh sampai magrib saja. Ada aspek menjaga pandangan dan menjaga hati yang jauh lebih menantang untuk dilakukan, apalagi kalau lawan bicaranya adalah orang yang punya tempat spesial di pikiran kamu. Pertemuan yang awalnya diniatkan cuma buat makan bareng seringkali berubah jadi momen yang bikin hati berdebar dan fokus ibadah jadi teralihkan.
Dalam konteks hukum agama, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram memang sangat disarankan buat dihindari karena bisa memicu hal-hal yang kurang baik. Rasulullah SAW pernah mengingatkan kita dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang bunyinya kurang lebih kalau tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali ia disertai mahramnya. Meskipun tempat bukber biasanya ramai, tetap saja intensitas obrolan yang terlalu dalam bisa menciptakan suasana yang mirip dengan berduaan secara emosional. Kamu perlu punya kesadaran tinggi kalau setiap tindakan kita di bulan suci ini punya bobot yang beda. Bukan berarti kamu harus jadi anti-sosial dan menolak semua ajakan, tapi lebih ke gimana kamu bisa mengatur strategi supaya pertemuan itu tetap berada di jalur yang aman.
Batasan Yang Perlu Diperhatikan Saat Bertemu
Salah satu cara paling efektif supaya bukber bareng gebetan tetap aman adalah dengan tidak pergi berduaan saja. Mengajak teman-teman lain atau melakukan bukber dalam format rombongan besar jauh lebih disarankan. Dengan adanya orang lain di sekitar kamu, suasana bakal terasa lebih cair dan risiko untuk melakukan hal-hal yang melampaui batas jadi lebih kecil. Kamu tetap bisa ngobrol dan berinteraksi dengan dia tanpa harus merasa tertekan atau merasa sedang melakukan sesuatu yang salah. Selain itu, bukber ramai-ramai biasanya jauh lebih seru karena obrolannya bakal lebih beragam dan nggak melulu soal perasaan yang malah bikin baper.
Penting juga buat memperhatikan lokasi pertemuan yang dipilih. Pilihlah tempat yang terbuka dan memang layak buat umum. Hindari tempat-tempat yang terlalu redup atau punya sekat-sekat yang terlalu tertutup. Kamu harus ingat pesan dalam Al-Quran Surah Al-Isra ayat 32 yang mengingatkan kita buat jangan mendekati zina. Mendekati saja sudah dilarang, apalagi kalau kita dengan sengaja menciptakan suasana yang mendukung ke arah sana. Menjaga jarak fisik juga jadi hal yang wajib dilakukan. Meskipun kamu merasa sudah sangat dekat dengan dia, selama belum ada ikatan halal, batasan fisik adalah pagar utama yang melindungi martabat dan pahala puasa kamu. Bersikap sopan dan tetap ramah tanpa harus berlebihan adalah kunci biar kamu tetap terlihat keren sekaligus punya prinsip.
Mengatur Waktu Agar Ibadah Tetap Prioritas
Seringkali acara bukber itu berlangsung terlalu lama sampai-sampai waktu salat magrib atau isya jadi terlewatkan begitu saja. Ini adalah kesalahan yang paling sering terjadi dan sangat disayangkan. Kamu jangan sampai rela mengorbankan kewajiban utama cuma demi mengobrol lebih lama dengan gebetan. Pastikan kamu sudah tahu di mana lokasi musala atau masjid terdekat dari tempat makan tersebut. Akan lebih keren lagi kalau kamu yang mengajak dia buat salat dulu sebelum lanjut mengobrol. Tindakan sederhana seperti ini justru menunjukkan kalau kamu adalah pribadi yang punya prinsip dan taat, yang mana biasanya malah bikin gebetan jadi makin respek sama kamu.
Waktu setelah berbuka biasanya sangat krusial karena energi sudah mulai kembali dan semangat buat mengobrol makin tinggi. Tapi jangan lupa kalau di malam hari ada ibadah tarawih yang juga punya keutamaan besar. Alangkah baiknya kalau acara bukber bareng gebetan itu diselesaikan tepat waktu supaya kamu tetap bisa mengejar rakaat tarawih di masjid atau di rumah. Jangan biarkan momen setahun sekali ini habis cuma buat urusan duniawi yang sifatnya sementara. Mengatur waktu dengan bijak menunjukkan kalau kamu tahu mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditunda agar puasa kamu nggak sia-sia.
Etika Komunikasi Dan Topik Pembicaraan
Apa yang dibicarakan saat bukber juga punya pengaruh besar pada kualitas ibadah kamu. Sebisa mungkin hindari topik obrolan yang mengarah pada hal-hal sensitif atau malah menjurus ke arah yang negatif. Gunakan kesempatan ini buat saling mengenal karakter masing-masing secara lebih luas tanpa harus masuk ke ranah yang terlalu privat. Obrolan yang ringan, lucu, dan inspiratif jauh lebih baik daripada obrolan yang isinya cuma keluhan atau malah membicarakan orang lain alias ghibah. Kamu pasti tahu kalau menggunjing itu bisa menghapus pahala puasa dalam sekejap, jadi tetaplah waspada dengan arah pembicaraan kalian saat bertemu nanti.
Gue menyarankan buat tetap menjaga nada bicara agar nggak terlalu manja atau menggoda. Bersikap apa adanya dan tetap santun itu jauh lebih menarik daripada mencoba jadi orang lain demi menarik perhatian. Kamu harus bisa jadi diri sendiri yang punya batasan jelas. Kalau dia memang sosok yang baik buat kamu, dia pasti akan menghargai prinsip kamu dalam menjaga diri selama bulan Ramadhan. Komunikasi yang sehat adalah komunikasi yang saling menghormati dan nggak memaksa salah satu pihak buat melanggar nilai-nilai yang mereka yakini sebagai seorang muslim.
Mengelola Perasaan Biar Nggak Berlebihan
Jatuh cinta atau suka sama orang itu manusiawi banget dan nggak ada yang salah dengan hal itu. Tapi di bulan puasa ini, kita ditantang buat bisa mengelola perasaan tersebut supaya nggak menguasai logika dan hati kita sepenuhnya. Jangan sampai bayangan tentang gebetan malah lebih sering muncul di kepala daripada niat buat beribadah. Momen bukber bisa jadi ujian buat sejauh mana kamu bisa mengendalikan diri. Kalau kamu merasa pertemuan itu bakal bikin kamu makin susah fokus ibadah, mungkin ada baiknya buat membatasi frekuensi pertemuan atau menundanya sampai setelah lebaran nanti agar hati kamu lebih tenang.
Perasaan yang meluap-luap kadang bikin kita melakukan hal bodoh atau keputusan yang terburu-buru. Cobalah buat tetap tenang dan jangan berekspektasi terlalu tinggi dari acara bukber tersebut. Anggap saja itu sebagai pertemuan biasa buat menyapa teman lama. Dengan menurunkan ekspektasi, kamu jadi nggak terlalu kecewa kalau ternyata suasananya nggak seindah yang dibayangkan, dan kamu juga jadi nggak terlalu terobsesi kalau ternyata acaranya berjalan sangat lancar. Ketenangan hati adalah aset paling berharga selama kamu menjalankan puasa dan berusaha tetap produktif di hari-hari lainnya.
Dampak Lingkungan Dan Pandangan Orang Lain
Kita hidup dalam lingkungan sosial yang punya norma-norma tertentu. Meskipun kamu merasa nggak melakukan apa-apa, tapi kalau terlihat sering keluar berduaan dengan lawan jenis saat Ramadhan, hal itu bisa menimbulkan fitnah atau penilaian negatif dari orang sekitar. Menjaga nama baik diri sendiri dan keluarga itu penting banget. Kamu nggak mau kan kalau niat baik kamu malah jadi bahan omongan orang karena kurangnya kehati-hatian dalam bersikap. Itulah kenapa mengajak teman lain atau keluarga dalam acara bukber itu punya manfaat ganda, selain buat keamanan diri juga buat menjaga citra positif kamu di masyarakat sekitar.
Bukan berarti kita harus hidup cuma buat dengerin omongan orang, tapi ada istilah dalam agama yang namanya menjauhi tempat-tempat fitnah. Dengan bersikap transparan dan nggak sembunyi-sembunyi, kamu sebenarnya sedang melindungi diri kamu sendiri. Kalau memang hubungan kalian punya arah yang jelas ke jenjang yang lebih serius, pertemuan yang melibatkan pihak ketiga atau keluarga justru akan memberikan nilai tambah yang besar bagi kalian berdua. Ini menunjukkan kalau hubungan kalian punya dasar yang kuat dan nggak cuma main-main di belakang saja tanpa sepengetahuan orang tua.
Mengambil Pelajaran Dari Setiap Interaksi
Setiap orang yang masuk dalam hidup kita pasti membawa pelajaran berharga, termasuk gebetan yang ngajak bukber ini. Kamu bisa memperhatikan gimana cara dia memperlakukan pelayan restoran, gimana reaksi dia saat waktu salat tiba, atau gimana cara dia mengelola emosi saat pesanan makanan datang terlambat. Ramadhan adalah momen yang pas buat melihat karakter asli seseorang tanpa topeng karena biasanya orang sedang dalam kondisi menahan diri. Kalau dia menunjukkan sikap yang nggak sabaran atau malah mengabaikan ibadah demi mengobrol dengan kamu, itu bisa jadi sinyal buat kamu dalam mempertimbangkan hubungan ke depannya.
Gunakan momen ini buat melakukan pengamatan yang jujur pada diri sendiri. Kamu nggak perlu menanyakan hal-hal yang berat, cukup lihat dari tindakannya sehari-hari saat kalian menghabiskan waktu bersama. Seseorang yang benar-benar peduli sama kamu pasti akan menjaga kamu dan nggak akan membiarkan kamu terjebak dalam situasi yang merugikan ibadah kamu. Hubungan yang baik itu harusnya saling menguatkan dalam kebaikan, bukan malah saling menjerumuskan dalam kelalaian yang bisa merugikan diri sendiri di masa mendatang.
Solusi Bagi Yang Ingin Tetap Silaturahmi Tanpa Galau
Kalau kamu memang merasa nggak enak buat menolak tapi juga takut mengganggu puasa, kamu bisa menawarkan opsi lain yang lebih aman. Misalnya dengan mengalihkan acara makan di luar jadi acara kirim-kiriman makanan ke rumah masing-masing. Ini adalah tren yang cukup populer dan tetap terasa sangat personal bagi banyak orang. Kamu bisa saling berkirim menu favorit atau mencoba masakan baru dan kemudian mendiskusikannya lewat pesan singkat. Cara ini jauh lebih minim risiko dan tetap menjaga kehangatan hubungan tanpa harus bertemu fisik secara langsung di tempat yang rawan.
Pilihan lainnya adalah dengan melakukan bukber daring atau virtual kalau memang jarak atau kondisi nggak memungkinkan buat ketemu ramai-ramai. Meskipun rasanya beda, tapi ini bisa jadi alternatif buat kamu yang tetap ingin merasakan suasana buka bersama tanpa harus melanggar batasan-batasan yang sudah ada. Intinya adalah kreatifitas dalam berkomunikasi tanpa harus memaksakan keadaan. Kamu nggak harus selalu mengikuti arus kalau memang arus tersebut terasa kurang pas buat prinsip hidup kamu sebagai seorang yang sedang belajar jadi lebih baik.
Menghargai Diri Sendiri Dan Komitmen Ibadah
Pada akhirnya, kamu adalah pemegang kendali atas diri kamu sendiri. Menghargai diri sendiri berarti kamu tahu batasan mana yang nggak boleh dilanggar demi kesenangan sesaat yang nggak ada habisnya. Komitmen kamu pada ibadah puasa harus tetap jadi prioritas di atas segala urusan perasaan yang kadang naik turun. Kalau kamu sudah punya prinsip yang kuat, orang lain pun akan segan dan lebih menghargai keputusan kamu. Jangan takut kehilangan gebetan cuma karena kamu menjaga jarak atau menolak ajakan bukber yang menurut kamu kurang pas suasananya bagi hati kamu.
Jangan biarkan tekanan teman sebaya atau tren di media sosial bikin kamu merasa tertinggal kalau nggak ikut bukber sana-sini setiap hari. Kualitas Ramadhan kamu ditentukan oleh seberapa banyak kamu bisa mendekatkan diri pada sang pencipta, bukan seberapa banyak foto bukber yang kamu unggah di internet. Tetaplah jadi pribadi yang rendah hati namun punya pendirian yang kokoh dalam menjalani setiap pilihan hidup. Masa depan hubungan kamu nggak akan hancur cuma karena kamu menjaga batasan, tapi kedamaian hati kamu bisa terganggu kalau kamu terus-menerus mengabaikan aturan yang ada.
Memperkuat Niat Dan Doa
Satu hal yang nggak boleh dilupakan adalah selalu melibatkan Tuhan dalam setiap urusan, termasuk urusan hati kamu yang paling dalam. Berdoa supaya diberikan petunjuk dalam menjalin hubungan dan dijauhkan dari hal-hal yang kurang baik itu sangat disarankan buat dilakukan setiap hari. Bulan puasa adalah waktu yang sangat mustajab buat berdoa, apalagi menjelang waktu berbuka. Sambil menunggu makanan siap, daripada cuma bengong nungguin gebetan balas chat, mendingan gunakan waktu tersebut buat memperbanyak zikir dan doa. Mintalah agar hati kamu dijaga tetap tenang dan nggak mudah terombang-ambing.
Setiap usaha kamu buat menjaga diri dan menjaga pahala puasa pasti akan mendapatkan balasan yang indah suatu saat nanti. Jangan pernah merasa rugi karena sudah mencoba buat tetap berada di jalur yang benar meskipun banyak godaan di sekitar. Keberkahan dalam hidup itu datangnya dari ketaatan kita, dan itu jauh lebih mahal harganya daripada sekadar pengakuan atau pujian dari orang lain. Semoga Ramadhan kali ini benar-benar membawa perubahan positif buat kamu dan memberikan kejelasan bagi semua hal yang selama ini masih mengganjal di pikiran.
image source : Unsplash, Inc.