Kenapa Ada Perbedaan Pandangan di Kalangan Ulama? Memahami Keragaman dalam Islam

ardipedia.com – Sering nggak sih kamu ngerasa bingung saat dengerin perbedaan pendapat di kalangan ulama? Satu ulama bilang A, ulama yang lain bilang B. Kita jadi mikir, "Mana sih yang benar?" atau "Kenapa kok beda-beda, ya?" Ini yang namanya kebingungan.

Perasaan kayak gini wajar banget, kok. Karena, kita hidup di era yang serba bebas. Kita bebas berpendapat. Kita bebas beropini. Kita bisa dengerin ceramah dari siapa pun, dari ustadz, dari guru, atau dari teman. Tapi, seringkali, kebebasan itu malah bikin kita jadi bingung. Kita jadi nggak tahu, mana sih yang benar? Mana sih yang salah?

Padahal, perbedaan pandangan di kalangan ulama itu adalah hal yang wajar. Itu adalah hal yang udah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Perbedaan itu nggak bikin Islam jadi lemah. Justru, perbedaan itu bisa bikin Islam jadi lebih kuat. Perbedaan itu bisa bikin Islam jadi lebih kaya.

Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang paling bijak dalam menyikapi perbedaan. Beliau nggak pernah berantem sama siapa pun. Beliau selalu berusaha buat menyatukan umat. Beliau adalah teladan terbaik buat kita yang lagi berusaha buat jadi pribadi yang lebih baik.

Di artikel ini, gue mau ajak kamu buat kupas tuntas, kenapa sih ada perbedaan pandangan di kalangan ulama? Bukan buat bikin kamu ngerasa bersalah, tapi buat jadi pengingat biar kita bisa jadi pribadi yang lebih bijak dalam mencari ilmu.

1. Pahami Konsep Ijtihad, Proses Mencari Hukum

Hal pertama yang harus kita pahami adalah konsep ijtihad. Ijtihad itu artinya usaha yang sungguh-sungguh buat mencari hukum. Para ulama itu nggak asal ngasih fatwa. Mereka itu ijtihad. Mereka itu berusaha buat mencari hukum dari Al-Qur'an dan hadis.

Tapi, Al-Qur'an dan hadis itu nggak selalu jelas. Ada yang maknanya ganda. Ada yang maknanya umum. Nah, di sinilah ijtihad itu dibutuhkan. Para ulama itu ijtihad buat mencari makna yang paling tepat.

Contohnya, soal puasa di hari Jumat. Ada ulama yang bilang puasa di hari Jumat itu makruh. Ada ulama yang bilang puasa di hari Jumat itu boleh-boleh aja. Kenapa kok beda? Karena, mereka punya pemahaman yang berbeda tentang hadis. Ada hadis yang bilang Rasulullah SAW melarang puasa di hari Jumat. Ada hadis yang bilang Rasulullah SAW puasa di hari Jumat. Nah, para ulama itu ijtihad buat mencari makna yang paling tepat.

Jadi, jangan pernah ngerasa kalau kamu itu paling benar. Jangan pernah ngerasa kalau ulama lain itu salah. Justru, kamu harus belajar dari mereka. Kamu harus menghargai setiap perbedaan.

2. Jadikan Rasulullah SAW sebagai Teladan Terbaik

Rasulullah SAW adalah sosok yang paling bijak dalam menyikapi perbedaan. Beliau nggak pernah berantem sama siapa pun. Beliau selalu berusaha buat menyatukan umat. Beliau berdakwah dengan hati, dengan kasih sayang, dan dengan ilmu.

Pelajaran dari Rasulullah SAW adalah, beliau nggak pernah nge-judge orang lain. Beliau nggak pernah ngomongin orang lain. Beliau bersabda:

"Tidak akan masuk surga orang yang suka menyebarkan fitnah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini nunjukin kalau kita harus hati-hati dalam berbicara. Kita nggak boleh menyebarkan fitnah. Kita nggak boleh ngomongin orang lain. Kita harus menjaga lisan kita.

Kalau kamu lagi dengerin perbedaan pandangan di kalangan ulama, mendingan kamu diam aja. Nggak usah adu argumen. Nggak usah ngotot pengen menang. Biar aja mereka yang berdebat. Yang penting, kamu tahu kalau kamu nggak salah.

3. Jaga Hati, Jangan Biarkan Sifat Fanatik Mengendalikannya

Seringkali, saat kita dengerin perbedaan pandangan di kalangan ulama, kita jadi fanatik. Kita jadi ngebela-belain ulama yang kita suka. Kita jadi nggak bisa mikir sendiri. Ini adalah hal yang salah. Fanatik itu bisa bikin kita jadi jauh dari Allah.

Fanatik itu bisa bikin kita jadi nggak bisa menerima perbedaan. Kita jadi mikir, "Ah, ulama gue yang paling benar. Ulama lain salah." Pikiran kayak gini cuma bikin kita jadi sombong.

Pelajaran dari Rasulullah SAW adalah, beliau adalah sosok yang paling rendah hati. Beliau nggak pernah sombong. Beliau selalu bersyukur. Beliau bersabda:

"Sesungguhnya Allah menyukai orang yang tawadhu' (rendah hati) dan bersyukur." (HR. Muslim)

Ini nunjukin kalau kita harus rendah hati. Kita harus bersyukur. Dengan begitu, kita akan merasa lebih bahagia, lebih tenang, dan kita akan lebih bijak dalam mengelola hidup.

4. Jadikan Ilmu Sebagai Bekal

Seringkali, kita jadi bingung saat dengerin perbedaan pandangan di kalangan ulama karena kita nggak punya ilmu. Kita nggak tahu, kenapa sih mereka beda pendapat? Kita nggak tahu, mana sih dalilnya? Akhirnya, kita jadi cuma ngikutin aja.

Nah, kalau kamu mau nggak bingung, kamu harus cari ilmu. Kamu bisa ikut kajian, kamu bisa baca buku-buku Islami, atau kamu bisa nonton ceramah-ceramah ustadz. Ilmu itu bisa bantu kamu buat mengatasi masalah kamu.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Ini nunjukin kalau menuntut ilmu itu adalah ibadah yang paling mulia. Kalau kamu mau nggak bingung, kamu harus perbanyak ilmu. Ilmu itu bisa jadi obat paling ampuh buat masalah kamu.

5. Jangan Lupa Doa dan Tawakal

Yang terakhir, jangan pernah lupa buat berdoa dan bertawakal. Doa itu adalah senjata paling ampuh. Doa itu bisa bikin kamu lebih sabar dalam menghadapi perbedaan pandangan. Doa itu juga bisa bikin kamu lebih bijak.

Allah SWT berfirman:

"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan." (QS. Ghafir: 60)

Ini nunjukin kalau Allah itu selalu siap dengerin doa-doa kita. Kita nggak perlu takut kalau doa kita nggak dikabulkan. Karena, setiap doa yang kita panjatkan itu dicatat sama Allah. Dan Allah pasti akan kasih yang terbaik buat kita.

Selain doa, kamu juga harus tawakal. Tawakal itu artinya kita udah berusaha maksimal, kita udah cari ilmu, kita udah jaga hati, lalu kita serahkan hasilnya kepada Allah. Tawakal itu bukan berarti pasrah, ya. Tawakal itu artinya kita yakin kalau Allah akan kasih yang terbaik buat kita.

Penutup

Jadi, perbedaan pandangan di kalangan ulama itu wajar, kok. Itu adalah rahmat dari Allah. Kamu bisa jadi pribadi yang lebih bijak dengan cara memahami konsep ijtihad, jadikan Rasulullah sebagai teladan, jaga hati dari sifat fanatik, cari ilmu, dan jangan lupa doa dan tawakal.

Semoga dengan menerapkan tips ini, kamu bisa menjalani hidup yang lebih tenang, lebih bahagia, dan lebih bermakna.

image source : iStock

Gass komen di bawah! Santai aja, semua komentar bakal kita moderasi biar tetap asik dan nyaman buat semua!

Lebih baru Lebih lama
ardipedia

نموذج الاتصال