ardipedia.com – Coba deh kamu ingat-ingat lagi, seberapa sering kamu tidak enak hati buat menolak permintaan orang lain, meskipun itu menguras energi atau tidak sesuai sama kemauan kamu? Sikap selalu berusaha menyenangkan orang lain, atau yang kita kenal sebagai people pleasing, itu seringkali menempel banget di kehidupan kita. Kita tidak sadar kalau kebiasaan ini tidak cuma bikin kita capek, tapi juga memberi contoh yang tidak sehat ke anak-anak kita. Masalahnya, anak-anak itu super sensitif sama apa yang mereka lihat dari orang tuanya. Kalau kita selalu mengorbankan diri demi kenyamanan orang lain, mereka akan menganggap itu sebagai standar hidup.
Mendidik anak buat berani bilang "tidak" itu bukan berarti ngajarin mereka buat jadi egois atau tidak peduli. Justru, ini adalah skill survival yang penting banget di dunia yang penuh tekanan ini. Anak yang mengerti batas dirinya (boundary) akan lebih tahan banting, tidak gampang dimanfaatin, dan punya self-esteem yang kuat. Mereka tidak perlu validasi dari luar buat merasa berharga. Mereka cukup yakin sama diri mereka sendiri. Kalau gue tidak bisa bilang "tidak" buat nambah kerjaan padahal deadline sudah di depan mata, ujung-ujungnya gue juga yang stres dan hasilnya tidak maksimal.
Kenapa Anak Bisa Jadi Seorang People Pleaser
Anak itu tidak lahir langsung jadi people pleaser, lho. Kebiasaan ini tumbuh dari lingkungan dan interaksi mereka sehari-hari. Ada beberapa pemicu kenapa anak cenderung berusaha keras buat nyenengin semua orang:
1 Cinta yang Terasa Bersyarat
Ini pemicu paling sering. Anak belajar kalau kasih sayang, perhatian, atau pujian dari orang tua cuma datang kalau mereka berperilaku tertentu. Misalnya, "Mama sayang kamu kalau kamu dapat nilai bagus," atau "Papa happy kalau kamu tidak rewel." Anak mengasosiasikan nilai diri mereka dengan kepatuhan dan prestasi. Mereka tidak merasa cukup dicintai apa adanya, jadi mereka harus bekerja keras buat mempertahankan cinta itu dengan selalu mengiyakan.
2 Ketakutan Akan Penolakan atau Hukuman
Anak yang dibesarkan di lingkungan yang sering menggunakan hukuman keras atau kritikan berlebihan akan belajar bahwa cara teraman untuk bertahan hidup adalah dengan menghindari konflik atau kemarahan. Mereka akan mengatakan "ya" untuk segala hal demi menghindari penolakan atau rasa sakit.
3 Orang Tua yang Tidak Punya Batasan
Kalau orang tua sendiri tidak punya boundary yang jelas—selalu mengiyakan permintaan orang lain meski merugikan, atau mengizinkan orang lain melanggar ruang pribadi mereka—anak akan melihat ini sebagai norma. Mereka tidak belajar gimana cara menghargai diri sendiri karena orang tua mereka sendiri tidak nunjukkin itu.
Kenapa Kemampuan Bilang "Tidak" Itu Penting Banget
Kemampuan bilang "tidak" bukan sekadar kata, tapi fondasi untuk sehat secara mental dan emosional.
1 Melindungi Diri dari Eksploitasi
Di dunia nyata, skill ini penting buat ngelindungi anak dari situasi berbahaya. Anak yang tidak bisa nolak permintaan teman atau orang asing yang tidak nyaman itu jauh lebih rentan. Kita harus ngajarin mereka kalau rasa tidak enak hati yang mereka rasain itu adalah alarm yang harus didengarkan.
2 Membangun Self-Identity yang Kuat
Anak yang selalu mengiyakan keinginan orang lain akan kesulitan menemukan siapa diri mereka sebenarnya. Mereka hidup dengan memenuhi ekspektasi orang lain. Mendidik mereka berani nolak artinya ngajarin mereka buat menghargai suara hati mereka sendiri dan mengembangkan identitas yang otentik.
3 Mengelola Waktu dan Energi
Saat dewasa, skill menolak ini penting banget buat menjaga keseimbangan hidup. Anak belajar bahwa waktu dan energi mereka itu berharga, jadi mereka tidak sembarangan mengiyakan semua ajakan atau permintaan yang bisa bikin mereka burnout.
Taktik Low Profile Mendidik Anak Berani Bilang "Tidak"
Ini bukan soal ngasih perintah, tapi soal menciptakan lingkungan yang mendukung otonomi anak.
1 Sering Ajukan Pertanyaan yang Membutuhkan Penolakan
Kita harus sering ngasih kesempatan ke anak buat praktik bilang "tidak" di lingkungan yang aman. Misalnya, kamu tawarin makanan yang dia tidak suka: "Kamu mau sayur brokoli ini?" Kalau dia nolak, validasi penolakannya: "Oke, tidak apa-apa kamu tidak mau brokoli sekarang. Mama siapin yang lain." Jangan pernah memaksa atau membuat mereka merasa bersalah karena menolak.
2 Ajarkan Bahasa Batasan yang Jelas
Anak sering tidak bilang "tidak" karena tidak tahu gimana cara ngomongnya tanpa terdengar kasar. Kita harus ngajarin mereka frasa alternatif yang lebih sopan tapi tetap tegas. Contohnya, ganti "Nggak, aku tidak mau," dengan "Terima kasih sudah mengajak, tapi aku mau main yang ini dulu," atau "Aku tidak nyaman kalau kamu pegang barang aku tanpa izin." Memberi mereka tools bahasa yang tegas tapi ramah itu kunci.
3 Hormati Keputusan dan Body Autonomy Mereka
Ini mutlak. Anak harus punya otonomi atas tubuh dan keputusan pribadi mereka. Jangan pernah memaksa anak buat cipika-cipiki sama saudara atau kerabat kalau mereka tidak mau. Kalau anak bilang, "Aku tidak mau dipeluk sekarang," hormati itu. Ini ngajarin mereka bahwa tubuh mereka adalah milik mereka, dan mereka punya hak mutlak buat menentukan siapa yang boleh menyentuh mereka. Ini fondasi penting buat menghindari kekerasan atau eksploitasi di masa depan.
4 Tunjukkan Cara Mengatasi Penolakan
Anak takut bilang "tidak" karena takut dengan konsekuensi atau reaksi negatif dari orang lain. Kita harus tunjukkan ke mereka gimana caranya ngadepin penolakan itu dengan tenang. Kalau ada teman anak yang marah karena ditolak saat pinjam mainan, ajak anak ngobrol tentang perasaan mereka dan validasi: "Tidak apa-apa kalau teman kamu sedih, tapi kamu sudah bilang dengan jelas. Itu bagus."
Peran Kita Sebagai Role Model Anti People Pleasing
Semua taktik di atas tidak akan berhasil kalau kita sendiri masih terjebak dalam siklus people pleasing. Anak melihat kita.
1 Praktikkan Batasan Kita Sendiri
Tunjukkan ke anak bahwa kamu juga berani bilang "tidak" pada permintaan yang tidak sesuai. Misalnya, kalau ada teman atau saudara yang minta bantuan tapi kamu lagi capek banget, katakan dengan jelas: "Maaf, kali ini aku tidak bisa bantu, aku perlu istirahat." Ini ngajarin anak bahwa kebutuhan pribadi itu sama pentingnya dengan kebutuhan orang lain.
2 Jangan Memanipulasi Anak dengan Rasa Bersalah
Stop menggunakan kalimat yang memicu rasa bersalah saat anak menolak perintah yang tidak penting (misalnya, anak tidak mau makan sesuatu). Jangan bilang, "Mama sudah masak capek-capek, masa kamu tidak mau makan?" Ini menciptakan kondisi cinta bersyarat yang justru mendorong perilaku people pleasing. Hormati penolakan mereka dalam hal-hal yang masih wajar.
3 Validasi Perasaan Tidak Enak Saat Menolak
Anak perlu tahu kalau merasa tidak enak saat menolak itu wajar. Ajak mereka ngobrol: "Kamu tadi bilang tidak ke teman kamu. Gimana rasanya? Pasti sedikit tidak enak ya? Tidak apa-apa, itu normal. Tapi, kamu sudah melindungi diri kamu." Membantu mereka mengenali dan mengelola emosi itu lebih baik daripada meminta mereka menghilangkannya.
Mendidik Self-Respect Bukan Egoisme
Intinya, mendidik anak berani bilang "tidak" itu bukan berarti kita ngajarin mereka buat jadi egois yang cuma mikirin diri sendiri. Justru, kita lagi ngajarin mereka tentang self-respect atau menghargai diri sendiri. Anak yang menghargai dirinya sendiri akan lebih mampu menghargai orang lain dengan sehat.
Mereka tidak perlu memakai topeng kebaikan palsu buat diterima. Mereka bisa berinteraksi secara tulus karena mereka datang dari tempat yang penuh dan utuh.
Membangun Fondasi Otonomi dan Self-Validation
Proses ini berjalan sejak anak masih kecil banget. Mulai dari membiarkan mereka memilih baju sendiri atau rasa es krim sendiri, kita sudah menanamkan rasa otonomi. Otonomi ini adalah fondasi buat kemampuan menolak di kemudian hari.
Kalau gue tidak pernah dikasih kesempatan buat milih mau makan apa, gimana gue bisa bilang tidak mau saat ditawari minuman keras pas gue udah dewasa nanti? Otonomi kecil sehari-hari itu adalah latihan buat keputusan besar di masa depan.
Kita juga harus mengajarkan mereka tentang self-validation. Anak people pleaser itu butuh orang lain buat bilang mereka baik atau benar. Kita harus mengubah itu dengan sering mengajukan pertanyaan reflektif: "Gimana perasaan kamu setelah melakukan itu? Apakah kamu senang dengan pilihan kamu?" Fokus pada kepuasan diri mereka, bukan pada reaksi orang lain. Ini ngajarin mereka kalau sumber kebahagiaan dan validasi itu ada di dalam diri mereka, bukan di tangan orang lain.
Pada akhirnya, mendidik anak berani bilang "tidak" itu adalah bentuk cinta paling nyata. Ini adalah cara kita mempersiapkan mereka buat hidup dengan utuh, tanpa terbebani kewajiban buat nyenengin semua orang. Mari kita jadi orang tua yang berani bilang "tidak" pada pola lama, demi melihat anak kita tumbuh dengan berani dan sehat mental.
image source : Unsplash, Inc.