ardipedia.com – Kamu yang punya UMKM dan sudah cukup lama berbisnis pasti pernah ngalamin hal ini: Laporan laba rugi kamu mengkilap, angka profit bersih kamu kelihatan bagus di akhir bulan, tapi kenapa saldo rekening di bank selalu kosong atau tipis banget? Setiap mau bayar gaji karyawan atau beli bahan baku baru, rasanya selalu kurang dana tunai. Ini bukan mitos, tapi masalah nyata yang dialami banyak UMKM. Masalah ini namanya cash flow mismatch.
Kenapa bisa begitu? Jawabannya ada di perbedaan fundamental antara profit dan cash flow. Profit itu adalah konsep akuntansi yang mencatat pendapatan (revenue) yang sudah kamu hasilkan dikurangi semua beban, meski uangnya belum sepenuhnya masuk ke kantong kamu. Sementara, cash flow adalah pergerakan aktual uang masuk dan uang keluar dari bisnis kamu secara riil. Banyak UMKM fokus terlalu keras di profit sampai lupa menjaga cash flow agar tetap likuid. Kalau gue jual sepatu ke teman dan dia janji bayar bulan depan, gue sudah dapat profit di laporan hari ini, tapi uang tunainya belum ada. Itu inti masalahnya.
Tiga Jebakan Utama yang Menyedot Uang Tunai
Ada beberapa area kritis yang biasanya menyebabkan uang tunai kamu tersedot keluar atau terjebak di tempat yang salah. Melakukan audit cash flow sederhana bisa membongkar jebakan utama ini.
1 Uang Terjebak di Piutang (Account Receivable)
Ini adalah penyebab nomor satu cash flow mampet. Kamu sudah jual produk atau jasa ke customer atau distributor, kamu sudah mencatatnya sebagai revenue dan profit, tapi mereka belum bayar. Semakin lama masa jatuh tempo pembayaran (misalnya net 30 hari atau net 60 hari), semakin lama uang kamu terjebak di tangan orang lain. Bisnis kamu kelihatan untung, tapi uang itu cuma berupa janji di atas kertas. Kebutuhan operasional harian kamu nggak bisa dibayar pakai janji. Piutang yang besar adalah ilusi kekayaan yang paling berbahaya.
2 Uang Mengendap di Stok (Inventory)
Banyak UMKM punya kebiasaan beli stok (inventory) bahan baku atau barang jadi dalam jumlah besar karena tergiur diskon atau khawatir kehabisan. Uang yang kamu pakai buat beli stok ini adalah cash out saat ini juga. Meskipun stok itu tercatat sebagai asset bisnis, tapi sampai stok itu terjual dan uangnya masuk ke rekening kamu, uang itu tetap mengendap dan nggak bisa kamu pakai buat bayar listrik atau gaji. Overstock adalah penyakit kronis yang membuat UMKM kelihatan kaya, tapi miskin uang tunai. Ini adalah uang tunai beku di gudang.
3 Pengeluaran Besar untuk Aset Tetap (Fixed Asset)
Kadang, UMKM terlalu bersemangat dan langsung membeli fixed asset yang mahal seperti mesin produksi baru, mobil operasional, atau renovasi kantor secara tunai. Meskipun asset ini penting buat pertumbuhan, pembelian besar secara tiba-tiba akan menguras liquidity bisnis kamu. Fixed asset itu memang punya nilai dan bisa disusutkan di laporan profit, tapi uang tunai buat membelinya sudah keluar semua. Ini menyebabkan disparitas antara profit dan cash flow. Kamu harus berhati-hati agar investasi tidak mencekik operasional.
Analisis Laporan Cash Flow Sederhana
Buat ngerti kemana perginya uang kamu, kamu harus lihat laporan Cash Flow. Laporan ini dibagi jadi tiga aktivitas utama:
Cash Flow dari Aktivitas Operasi (CFO): Ini adalah uang yang masuk dan keluar dari kegiatan bisnis sehari-hari. Mencakup uang dari penjualan, dikurangi bayar gaji, listrik, sewa, dan beli bahan baku. CFO harus positif dan cukup buat menutupi semua biaya operasional kamu. Kalau CFO kamu negatif, berarti operasi bisnis kamu tidak menghasilkan uang tunai yang cukup.
Cash Flow dari Aktivitas Investasi (CFI): Ini terkait pembelian atau penjualan asset jangka panjang seperti mesin, tanah, atau kendaraan. Biasanya CFI itu negatif saat bisnis kamu lagi bertumbuh karena kamu beli asset baru. Tapi, jangan sampai negatifnya terlalu besar dan menguras CFO kamu.
Cash Flow dari Aktivitas Pendanaan (CFF): Ini terkait dengan pinjaman bank, setoran modal dari pemilik atau investor, atau pembayaran dividen. CFF sering positif saat bisnis menerima pinjaman atau investasi baru.
Mengubah Piutang dan Stok Jadi Uang Tunai
Kunci buat menyelesaikan cash flow mismatch adalah mempercepat proses uang masuk dan memperlambat proses uang keluar.
1 Negosiasi Syarat Pembayaran yang Lebih Cepat
Kalau kamu punya piutang dengan jatuh tempo 60 hari, coba negosiasi dengan pelanggan terbaik kamu agar bisa dibayar net 30 hari. Kamu juga bisa menawarkan diskon kecil (early payment discount) jika mereka bayar lebih cepat. Misalnya, diskon 2% jika bayar dalam 10 hari. Meskipun profit kamu sedikit berkurang, liquidity kamu akan terjaga sehat dan kamu bisa memutar uang lebih cepat.
2 Manajemen Stok Just-In-Time
Terapkan manajemen stok yang lebih ketat. Hanya beli bahan baku sesuai kebutuhan produksi dalam waktu dekat (just-in-time). Ini akan memastikan uang kamu nggak mengendap jadi barang mati di gudang. Lakukan analisis stok secara berkala untuk mengidentifikasi barang apa yang lama terjual (slow moving) dan segera habiskan stok itu dengan diskon atau promosi. Strategi ini membantu membebaskan uang tunai yang terperangkap.
3 Mengoptimalkan Utang (Account Payable)
Sisi lain dari persamaan ini adalah utang (account payable). Kalau kamu punya utang ke supplier dengan jatuh tempo 60 hari, gunakan waktu itu semaksimal mungkin. Bayar utang tepat di tanggal jatuh tempo, jangan lebih cepat. Uang yang masih di tangan kamu bisa kamu pakai buat menutupi biaya operasional lain yang mendesak. Mengelola account payable secara strategis bisa jadi sumber working capital sementara.
Mengaudit Diri Sendiri Agar Tetap Likuid
Audit cash flow nggak harus pakai jasa akuntan publik mahal. Sebagai UMKM, kamu bisa lakukan sendiri dengan fokus pada beberapa indikator ini setiap bulan.
1 Hitung Cash Conversion Cycle (CCC)
CCC adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan bisnis kamu buat mengubah investasi kamu di stok dan piutang kembali menjadi uang tunai di bank. CCC yang ideal itu nol atau negatif (jarang terjadi di UMKM). Semakin kecil angka CCC, semakin sehat cash flow kamu. Kalau angka CCC kamu 90 hari, artinya butuh tiga bulan buat uang kamu berputar kembali sepenuhnya. Ini adalah indikator kecepatan uang kembali.
2 Proyeksi Cash Flow Mingguan
Jangan cuma lihat laporan bulan lalu. Buat proyeksi cash flow untuk minimal 4 minggu ke depan. Catat semua piutang yang jatuh tempo, pembayaran utang ke supplier, dan biaya rutin seperti gaji. Ini membantu kamu melihat minggu mana yang berpotensi defisit dan kamu bisa siapkan dana talangan sebelum terlambat.
3 Jaga Rasio Current Ratio
Rasio ini mengukur liquidity jangka pendek bisnis kamu. Caranya mudah: Current asset (kas, stok, piutang) dibagi Current Liabilities (utang jangka pendek, utang gaji). Idealnya, current ratio ini harus di atas 1:1, bahkan lebih baik jika 2:1. Artinya, kamu punya current asset dua kali lebih besar daripada utang jangka pendek kamu. Rasio ini adalah alarm pertama bahwa kamu mulai kekurangan uang tunai.
Meskipun profit itu penting buat menarik investor atau bank, yang membuat bisnis kamu tetap berjalan dan membayar tagihan adalah uang tunai yang ada di tangan. Pepatah lama "Cash is King" itu benar adanya terutama untuk UMKM.
Jangan sampai kamu punya bisnis yang secara akuntansi profit tapi harus gulung tikar karena nggak bisa bayar utang jangka pendek. Melakukan audit cash flow rutin dan mengambil tindakan tepat atas stok dan piutang adalah solusi buat mengatasi cash flow mismatch ini. Ubah janji pembayaran jadi uang tunai secepat mungkin, dan jaga working capital kamu agar tetap sehat.
image source : Unsplash, Inc.