Portofolio "Kebakaran" Pas Market Crash? Ini Cara Tetap Santai Tanpa Kena Mental

ardipedia.com – Melihat angka di aplikasi sekuritas yang mendadak berubah warna jadi merah meriah memang punya sensasi tersendiri yang bikin jantung deg-deg-an. Rasanya seperti lagi naik roller coaster tapi pengamannya mendadak lepas di puncak tertinggi. Saat pasar sedang rontok dan semua orang di media sosial mulai menyebarkan kepanikan, rasanya sangat manusiawi kalau kamu merasa ingin segera menekan tombol jual dan lari sejauh mungkin dari dunia saham. Tapi sebenarnya, momen market crash itu adalah ujian sesungguhnya buat mentalitas seorang investor atau trader yang ingin bertahan lama di dunia ini tanpa harus masuk rumah sakit karena stres berlebihan.

Kondisi pasar yang sedang terjun bebas sering kali membuat logika kita tertutup oleh rasa takut yang luar biasa. Fenomena ini sering disebut sebagai kepanikan massal di mana semua orang berebut keluar dari pintu yang sama secara bersamaan. Bayangkan sebuah gedung yang sedang mengalami korsleting listrik, lalu semua orang berlari ke arah pintu darurat tanpa memikirkan apakah mereka akan terinjak-injak atau tidak. Di bursa saham, perilaku ini justru yang sering bikin kerugian jadi permanen. Padahal, kalau kita bisa duduk sebentar, tarik napas dalam-dalam, dan melihat angka-angka itu sebagai angka di layar saja, tekanan mentalnya mungkin tidak akan seberat itu.

Gue pernah melihat seseorang yang portofolionya turun sampai puluhan persen dalam hitungan hari saja. Reaksi pertamanya adalah menyalahkan keadaan, menyalahkan bandar, sampai menyalahkan pemerintah. Padahal, fluktuasi adalah bagian dari paket lengkap saat kita memutuskan buat terjun ke pasar modal. Tidak ada jalan yang selalu mulus dan lurus, pasti ada lubang dan tanjakan yang bikin mual. Menghadapi situasi portofolio yang sedang membara membutuhkan pendekatan yang lebih ke arah psikologis daripada sekadar hitung-hitungan teknis di atas kertas.

Memahami Bahwa Merah Di Layar Belum Tentu Rugi Nyata

Satu hal yang sering dilupakan saat melihat aset yang harganya turun drastis adalah konsep floating loss. Kamu perlu sadar bahwa angka minus yang tertera di aplikasi itu masih bersifat sementara selama kamu belum melakukan aksi jual atau cut loss. Selisih harga beli dan harga sekarang memang terlihat mengerikan, tapi itu bukan berarti uang kamu sudah hilang selamanya. Uang itu masih ada dalam bentuk unit saham yang kamu miliki, hanya saja nilainya sedang dihargai rendah oleh pasar karena berbagai sentimen yang sedang terjadi.

Banyak orang yang kena mental karena mereka menganggap angka di layar itu sebagai saldo uang tunai yang bisa diambil kapan saja. Padahal, kalau kamu berinvestasi dengan uang dingin, kamu punya kemewahan berupa waktu. Kamu tidak perlu panik karena tidak butuh uang itu besok pagi buat bayar tagihan listrik atau beli makan. Fokuslah pada jumlah lot yang kamu punya, bukan pada nilai nominal yang sedang fluktuatif. Selama fundamental perusahaan yang kamu beli masih bagus dan bisnisnya tetap jalan, harga saham biasanya akan mengikuti nilai intrinsiknya kembali saat badai sudah reda.

Masalahnya, sering kali emosi kita lebih cepat bereaksi daripada logika. Saat melihat aset turun sepuluh persen, otak bagian amigdala langsung mengirim sinyal bahaya. Di sinilah pentingnya punya mindset yang santai. Anggap saja pasar lagi kasih diskon besar-besaran, meskipun kamu belum punya modal lagi buat belanja. Dengan menggeser sudut pandang dari rugi menjadi menunggu, beban mental kamu bakal berkurang drastis. Kamu tidak lagi merasa kehilangan, tapi hanya merasa sedang menunggu antrean yang agak panjang untuk kembali ke harga awal.

Menjauh Dari Layar Dan Fokus Ke Kehidupan Nyata

Salah satu cara paling ampuh buat tetap tenang saat market crash adalah dengan menutup aplikasi trading kamu sementara waktu. Terlalu sering memantau pergerakan harga yang sedang liar hanya akan menambah kecemasan yang tidak perlu. Setiap kali kamu melihat grafik merah yang semakin panjang ke bawah, hormon stres di tubuh kamu bakal meningkat. Akibatnya, kamu jadi gampang emosi, susah tidur, dan bahkan bisa mengganggu produktivitas kerja kamu di dunia nyata. Padahal, mau ditontonin setiap detik pun, harga saham tidak akan langsung naik hanya karena kamu merasa sedih.

Gue pribadi kalau lagi menghadapi market yang lagi tidak bersahabat lebih memilih buat melakukan hobi lain. Bisa dengan main game, jalan-jalan ke taman, atau sekadar tidur siang yang lama. Intinya adalah mengalihkan fokus dari sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan ke sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Pasar saham itu punya mekanismenya sendiri yang dipengaruhi oleh jutaan orang di seluruh dunia. Kamu cuma satu orang kecil di tengah samudera luas, jadi tidak ada gunanya memaksakan diri untuk memikirkan kapan harga bakal berbalik arah.

Dunia nyata jauh lebih luas daripada sekadar angka-angka di layar ponsel. Teman-teman kamu, keluarga, dan pekerjaan kamu masih membutuhkan perhatian kamu. Jangan sampai karena portofolio lagi kebakaran, hubungan sosial kamu jadi ikut hangus. Tetaplah beraktivitas seperti biasa karena hidup terus berjalan meskipun bursa sedang libur atau sedang hancur. Dengan menjauhkan diri dari sumber stres, kamu bakal punya pikiran yang lebih jernih buat mengambil keputusan nantinya saat market sudah mulai stabil.

Mengatur Ulang Strategi Tanpa Perlu Rasa Sesal

Menyesali keputusan masa lalu saat harga saham sudah terlanjur jatuh adalah tindakan yang sia-sia. Kalimat seperti kalau saja kemarin gue jual di harga atas atau harusnya gue tidak beli saham ini hanya akan membuat mental kamu semakin jatuh. Apa yang sudah terjadi biarlah berlalu karena waktu tidak bisa diputar balik. Yang bisa kamu lakukan sekarang adalah evaluasi diri tanpa perlu menghakimi diri sendiri secara berlebihan. Lihat lagi portofolio kamu, apakah saham-saham yang kamu pegang memang masih layak dipertahankan atau memang sudah saatnya dilepas karena kinerjanya yang memburuk.

Jika ternyata kamu memang salah masuk ke saham yang tidak jelas fundamentalnya, anggap saja ini sebagai biaya sekolah di pasar modal. Semua investor hebat pasti pernah mengalami kerugian besar sebelum mereka benar-benar paham cara kerja market. Tidak ada orang yang langsung mahir tanpa pernah merasakan pahitnya floating loss. Dengan menerima kesalahan secara lapang dada, kamu tidak akan merasa terbebani secara mental. Kamu jadi lebih fokus pada apa yang harus dilakukan selanjutnya daripada meratapi nasib yang sedang kurang beruntung.

Strategi rebalancing atau mengatur ulang porsi aset juga bisa dilakukan pelan-pelan. Kamu tidak harus melakukan semuanya sekaligus dalam satu hari. Amati sektor mana yang paling kuat bertahan di tengah gempuran krisis dan pelajari kenapa hal itu bisa terjadi. Informasi ini bakal sangat berguna buat kamu di masa depan supaya tidak masuk ke lubang yang sama lagi. Jadikan momen crash ini sebagai laboratorium belajar yang sangat berharga karena pengalaman langsung di lapangan jauh lebih efektif daripada sekadar membaca buku teori investasi.

Hindari Mendengar Suara Orang Lain Di Media Sosial

Saat market crash, biasanya para ahli dadakan bakal bermunculan di media sosial dengan berbagai opini yang sangat menakutkan. Ada yang bilang ekonomi bakal kiamat, ada yang bilang bursa bakal tutup, sampai ada yang menyuruh semua orang buat jual emas atau aset lainnya. Mendengar ocehan mereka hanya akan membuat kamu semakin bingung dan panik. Ingat, kebanyakan dari mereka juga sedang panik atau bahkan cuma ingin mencari perhatian dengan membuat konten yang bombastis. Mereka tidak tahu kondisi keuangan kamu, profil risiko kamu, apalagi tujuan investasi kamu.

Pilihlah sumber informasi yang kredibel dan tetap tenang dalam memberikan analisis. Biasanya lembaga riset resmi atau analis dari sekuritas yang terpercaya akan memberikan data yang lebih objektif daripada sekadar cuitan orang di internet. Berpeganglah pada data yang valid seperti laporan keuangan perusahaan, kondisi makroekonomi secara umum, dan kebijakan moneter yang sedang diambil. Dengan memiliki pegangan data, kamu punya tameng buat melawan serangan rasa takut yang datang dari luar. Kamu jadi tidak gampang ikut-ikutan tren yang belum tentu benar.

Filter juga lingkungan pertemanan kamu di grup chat investasi. Kalau isinya cuma orang-orang yang mengeluh dan menyebarkan ketakutan, lebih baik senyapkan grup tersebut buat sementara. Kamu butuh lingkungan yang mendukung kesehatan mental kamu, bukan yang malah menjatuhkan semangat. Berdiskusi dengan teman yang punya mindset positif dan objektif akan jauh lebih membantu dalam menjaga kestabilan emosi kamu. Ingat bahwa setiap orang punya strategi yang berbeda, jadi apa yang baik buat mereka belum tentu baik buat kamu.

Menggunakan Uang Dingin Sebagai Penyelamat Mental

Salah satu alasan kenapa orang bisa sangat stres saat market crash adalah karena mereka menggunakan uang yang seharusnya buat kebutuhan pokok untuk investasi. Ini adalah kesalahan fatal yang sering dilakukan karena terlalu tergiur dengan potensi keuntungan cepat. Saat uang itu nilainya turun, otomatis kelangsungan hidup kamu jadi terancam. Tapi kalau sejak awal kamu sudah menggunakan uang dingin, yaitu uang yang memang dialokasikan buat investasi jangka panjang dan tidak akan dipakai dalam waktu dekat, mental kamu pasti bakal jauh lebih tenang.

Uang dingin memberikan kamu rasa aman secara psikologis. Kamu tahu bahwa meskipun nilai aset kamu turun, kamu tetap bisa makan enak, bisa bayar sewa tempat tinggal, dan bisa menjalani hidup dengan layak. Kamu tidak merasa terburu-buru untuk mencairkan aset tersebut di harga yang sedang murah. Inilah yang membedakan investor yang bijak dengan yang sekadar ikut-ikutan. Manajemen keuangan yang rapi sebelum terjun ke saham adalah fondasi utama agar mental tetap kuat menghadapi badai sebesar apa pun di pasar modal.

Pastikan juga kamu sudah punya dana darurat di instrumen yang likuid seperti tabungan atau reksa dana pasar uang sebelum memasukkan uang ke saham. Dana darurat ini fungsinya sebagai bantalan kalau-kalau ada kebutuhan mendesak di tengah kondisi pasar yang lagi tidak menentu. Dengan adanya bantalan ini, kamu tidak akan terpaksa menjual saham yang sedang rugi dalam hanya untuk menutupi kebutuhan mendadak. Keamanan finansial di dunia nyata secara otomatis akan membawa ketenangan pikiran saat kamu melihat layar portofolio yang sedang merah membara.

Fokus Pada Rencana Awal Dan Jangan Mudah Goyah

Setiap orang seharusnya punya rencana saat mulai membeli saham. Apakah kamu mau jadi investor jangka panjang yang mengharapkan dividen, atau kamu mau jadi trader yang mencari keuntungan dari selisih harga dalam waktu singkat. Saat market crash terjadi, kembalilah ke rencana awal tersebut. Kalau kamu memang investor jangka panjang, penurunan harga seharusnya tidak jadi masalah besar karena kamu percaya pada prospek perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Justru harga murah bisa jadi kesempatan kalau kamu masih punya sisa modal untuk menambah muatan secara bertahap.

Namun jika kamu adalah seorang trader, pastikan kamu sudah punya titik stop loss yang jelas dan disiplin menjalankannya. Sering kali mental kena karena trader tidak tega buat melakukan cut loss saat harga baru turun sedikit, lalu akhirnya malah terperangkap di penurunan yang sangat dalam. Disiplin pada rencana adalah kunci agar emosi tidak ikut campur dalam pengambilan keputusan. Kalau memang sudah waktunya keluar ya keluar, kalau memang waktunya bertahan ya bertahan. Jangan sampai keputusan kamu berubah-ubah hanya karena melihat sentimen sesaat di pasar.

Rencana yang matang akan membuat kamu bertindak seperti robot yang tidak punya perasaan. Robot tidak akan merasa sedih saat rugi dan tidak akan merasa sombong saat untung. Mereka hanya menjalankan perintah sesuai dengan algoritma yang sudah ditentukan. Kamu bisa mencoba menerapkan cara berpikir seperti ini agar tetap objektif. Tulis rencana kamu di kertas atau di catatan ponsel, lalu baca kembali saat kamu mulai merasa ragu. Dengan mengikuti panduan yang kamu buat sendiri saat pikiran masih jernih, kamu bakal terhindar dari keputusan impulsif yang biasanya berakhir dengan penyesalan.

Menjaga Kesehatan Fisik Agar Mental Tetap Kuat

Mungkin terdengar tidak nyambung, tapi kondisi fisik yang prima sangat berpengaruh pada cara kita merespons stres di pasar modal. Saat kamu kurang tidur karena begadang memantau bursa luar negeri atau kurang olahraga, tubuh kamu jadi lebih rentan terkena cemas berlebihan. Otak yang lelah tidak bisa berpikir secara jernih dan cenderung mengambil keputusan berdasarkan insting bertahan hidup yang sering kali salah dalam konteks investasi. Olahraga secara rutin bisa membantu melepaskan hormon endorfin yang bikin suasana hati jadi lebih baik dan tenang.

Makan makanan yang bergizi dan kurangi asupan kafein yang berlebihan juga bisa membantu mengurangi kegelisahan. Kafein yang terlalu banyak bisa bikin jantung berdebar lebih kencang, yang mana sensasinya mirip dengan saat kita lagi merasa takut. Kalau kamu sudah merasa cemas karena portofolio merah ditambah lagi dengan debaran jantung akibat kopi, level stres kamu bisa meningkat dua kali lipat. Gantilah dengan air putih atau teh herbal yang lebih menenangkan supaya kamu bisa menghadapi fluktuasi pasar dengan kepala yang lebih dingin.

Istirahat yang cukup juga sangat krusial. Tidur selama tujuh sampai delapan jam sehari bakal membantu otak kamu buat memproses informasi dan mengatur emosi dengan lebih baik. Saat bangun pagi dengan kondisi segar, kamu bakal merasa lebih siap buat menghadapi apa pun yang terjadi di bursa hari itu. Kamu tidak akan gampang baper kalau melihat harga saham turun lagi karena kamu tahu bahwa itu hanyalah bagian dari siklus pasar yang biasa. Kesehatan adalah aset yang paling mahal, jadi jangan sampai rusak hanya karena memikirkan pergerakan angka digital.

Menyadari Bahwa Tidak Ada Yang Abadi Di Bursa

Pasar modal itu ibarat roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Tidak ada kenaikan yang terus-menerus tanpa henti, dan begitu juga sebaliknya, tidak ada penurunan yang bakal berlangsung selamanya tanpa ada pembalikan. Sejarah sudah membuktikan berkali-kali bahwa setelah krisis atau crash yang hebat, pasar selalu punya cara buat bangkit kembali dan bahkan mencapai rekor tertinggi baru. Memahami siklus ini akan membuat kamu lebih tenang karena kamu tahu bahwa masa-masa sulit ini hanyalah sementara.

Kepanikan biasanya muncul karena orang merasa bahwa penurunan ini tidak akan pernah berakhir. Padahal, ekonomi dunia selalu berkembang dan perusahaan-perusahaan besar bakal terus berinovasi buat menghasilkan laba. Selama manusia masih butuh makan, butuh transportasi, butuh teknologi, dan butuh jasa keuangan, maka bursa saham akan tetap punya nilai. Kamu hanya perlu bersabar melewati fase penurunan ini dengan mental yang kuat. Anggap saja ini sebagai waktu buat bursa melakukan pembersihan dari spekulan-spekulan yang cuma cari untung instan tanpa strategi yang jelas.

Kesabaran adalah mata uang yang paling berharga di pasar saham, bahkan lebih berharga daripada modal uang itu sendiri. Orang yang sabar dan tenang biasanya akan keluar sebagai pemenang di akhir nanti. Mereka yang tidak kuat mental dan buru-buru keluar saat market crash justru yang biasanya kehilangan peluang saat harga mulai merangkak naik lagi. Jadi, tetaplah santai dan jangan biarkan rasa takut menguasai logika kamu. Percayalah bahwa setelah hujan badai yang sangat lebat, biasanya akan muncul pelangi yang sangat indah, meskipun kita tidak tahu persis kapan pelangi itu akan muncul.

image source : Unsplash, Inc.

Gass komen di bawah! Santai aja, semua komentar bakal kita moderasi biar tetap asik dan nyaman buat semua!

Lebih baru Lebih lama
ardipedia

نموذج الاتصال