ardipedia.com – "Nak, tolong ambilin handuk di jemuran!" "Bentar Bu, lagi main sebentar." "Dek, tolong sapu ruang tamu!" "Nanti ya, Pak, masih nanggung nih main game." Kalau kamu sering dengar percakapan kayak gini, berarti kamu nggak sendirian. Banyak orang tua yang merasa anak-anaknya makin ke sini makin susah disuruh, maunya rebahan atau sibuk sama dunianya sendiri.
Seringkali, kita langsung mikir, "Ah, dasar anak mager!" atau "Gimana sih, disuruh sebentar aja nggak mau." Padahal, di balik sikap mereka yang kelihatan ogah-ogahan, ada banyak banget alasan yang mungkin nggak kita sadari. Daripada langsung nge-cap anak sebagai pemalas, mending kita coba pahami dulu apa yang sebenarnya terjadi. Siapa tahu, dengan mengerti alasan di baliknya, kita bisa nemuin cara yang lebih pas buat ngajak mereka kerja sama.
Di artikel ini, kita bakal bedah tuntas kenapa anak-anak seringkali sulit diajak bantu orang tua. Ini bukan tentang membenarkan sikap mereka, tapi lebih ke mencari solusi yang cerdas dan efektif. Jadi, siap-siap buat kaget, karena bisa jadi masalahnya ada di cara kita berkomunikasi.
1. Kurang Ada Kejelasan
Pernah nggak sih, kamu nyuruh anak tapi kalimatnya kurang jelas? "Nak, tolong beresin kamar ya." Beresin kamar itu artinya apa? Nyapu? Nyuci piring? Merapikan baju? Buat orang dewasa, "beresin kamar" itu mungkin jelas, tapi buat anak-anak, itu bisa jadi tugas yang abstrak dan bikin mereka bingung harus mulai dari mana.
Anak-anak butuh instruksi yang spesifik dan terperinci. Coba deh ganti kalimatnya jadi, "Nak, tolong angkat baju kotor yang ada di lantai, terus taruh di keranjang." Atau, "Tolong susun buku-buku di rak, ya." Instruksi yang jelas bikin mereka tahu persis apa yang harus dilakukan, jadi nggak ada lagi alasan "bingung" atau "nggak tahu harus mulai dari mana."
2. Merasa Terlalu Banyak Tuntutan
Setiap kali anak lagi santai atau main, kamu langsung nyuruh. "Kalau udah selesai main, langsung cuci piring ya." "Kalau udah selesai ngerjain PR, langsung nyapu." Lama-lama, anak bisa merasa kalau setiap kali mereka mau istirahat, pasti ada tugas yang menanti. Mereka jadi ngerasa, "Ah, percuma santai, pasti disuruh lagi."
Tentu aja anak-anak perlu membantu, tapi coba beri mereka waktu buat bersantai. Biarkan mereka main atau rebahan dulu. Setelah itu, kamu bisa ajak mereka bicara baik-baik. "Mainnya udah selesai? Kalau udah, bantu Mama beresin piring kotor, yuk." Dengan begitu, mereka nggak merasa tertekan dan jadi lebih semangat buat bantu.
3. Merasa Nggak Dihargai
Anak-anak itu punya ego yang besar. Mereka butuh merasa dihargai dan diakui. Saat mereka bantu, tapi kamu cuma bilang, "Ya udah, bagus," atau "Ya harusnya gitu," mereka bisa jadi merasa usahanya nggak ada artinya. Mereka mikir, "Ngapain aku bantu kalau nggak ada yang peduli?"
Coba beri apresiasi yang tulus. "Makasih ya, kamu udah bantu Papa siram tanaman. Tanaman kita jadi segar!" Atau, "Wah, kamar kamu jadi rapi banget, kamu hebat!" Pujian yang tulus bikin anak merasa dihargai dan termotivasi buat bantu lagi. Jangan lupa, apresiasi itu bisa juga dalam bentuk lain, seperti pelukan atau ciuman.
4. Tugasnya Terlalu Berat atau Sulit
Kadang, kita kasih tugas yang nggak sesuai sama usia anak. Misalnya, nyuruh anak usia 5 tahun buat ngepel rumah sendirian, atau nyuruh anak usia 8 tahun buat nyuci piring kotor yang numpuk. Tugas yang terlalu berat bisa bikin mereka frustasi dan akhirnya menyerah.
Coba bagi tugasnya jadi lebih kecil dan ringan. Misalnya, "Kamu bantu angkat piring yang udah dicuci ya." atau "Kamu ambil sampah yang ada di ruang tamu, nanti Papa yang buang." Dengan begitu, mereka merasa tugasnya bisa diselesaikan dan nggak merasa terbebani.
5. Kurang Motivasi atau Insentif
Banyak orang tua yang mikir, "Ya kan emang harus bantu, nggak usah pakai imbalan." Padahal, anak-anak itu butuh motivasi. Bukan cuma soal imbalan materi, tapi juga imbalan non-materi. Kalau mereka bantu, mereka bisa dapat waktu main lebih lama, atau bisa dapat nonton film favorit mereka.
Ajak mereka membuat kesepakatan. "Kalau kamu bantu Mama beres-beres, nanti kita bisa main di taman, gimana?" atau "Kalau kamu beresin mainan, nanti kamu boleh main game 15 menit." Ini ngajarin mereka tentang konsep kerja keras dan hasil yang bisa didapatkan.
6. Merasa Digurui atau Dihakimi
Saat anak lagi mager, seringkali kita langsung nge-cap mereka. "Kamu tuh mager banget sih, nggak kayak anak lain." Atau, "Dasar pemalas, jadi anak kok nggak mau bantu orang tua." Kata-kata kayak gini nggak cuma bikin mereka sakit hati, tapi juga bikin mereka makin malas.
Coba ganti cara ngomongnya. "Mama tahu kamu lagi capek, tapi ayo kita beres-beres sebentar biar cepet selesai." Atau, "Papa butuh bantuan kamu, yuk bantu Papa." Bahasa yang lembut dan nggak menghakimi bikin mereka merasa lebih nyaman dan mau bantu. Ingat, kamu butuh kerja sama, bukan paksaan.
7. Kurangnya Keterlibatan di Awal
Saat anak masih kecil, apakah kamu selalu bantu mereka? Misalnya, saat mereka mau ambil baju, kamu yang ambilkan. Saat mereka mau pakai sepatu, kamu yang pakaikan. Hal ini bisa bikin mereka jadi nggak terbiasa mandiri dan nggak tahu harus mulai dari mana.
Coba ajak mereka terlibat dari awal. Saat kamu nyapu, berikan mereka sapu kecil. Saat kamu mencuci piring, berikan mereka piring plastik untuk dicuci. Dengan begitu, mereka terbiasa buat bantu dan menganggapnya sebagai hal yang seru, bukan tugas yang membosankan.
8. Kurangnya Contoh dari Orang Tua
Ini nih, yang paling penting. Anak-anak itu peniru ulung. Kalau kamu sendiri mager, jarang bantu pasangan, atau selalu nyuruh-nyuruh, mereka bakal meniru perilaku itu. Kalau kamu mau anak kamu rajin, kamu harus tunjukkan contoh yang baik.
Ajak mereka kerja sama. "Yuk, kita beres-beres bareng-bareng." Saat kamu nyapu, mereka bisa bantu lap-lap meja. Saat kamu memasak, mereka bisa bantu mengambilkan bahan-bahan. Ini ngajarin mereka kalau pekerjaan rumah itu tanggung jawab bersama, bukan cuma tugas satu orang.
Intinya, "mager" itu cuma gejala. Akar masalahnya bisa jadi ada di komunikasi, kurangnya penghargaan, atau kurangnya contoh yang baik. Dengan memahami alasan-alasan di atas, kamu bisa mengubah cara parenting kamu dan membuat anak jadi lebih rajin dan mandiri.
image source: iStock